Sekarang Pelukis Kondang, Saat Sekolah Ternyata Nilai Rapornya Cuma Segini

782 views

Pelukis Hamid Nabhan (kanan) menunjukkan rapornya yang diberi nilai 5 pada mata pelajaran kesenian oleh sang guru, HM Djasuli Rindusara (kiri) disaksikan Hj Sunarmi, mantan guru bahasa Indonesia.

iniSURABAYA – Reuni bisa membuka membuka banyak kenangan, baik yang menyenangkan maupun yang pahit. Namun, setidaknya lewat silaturahmi itu, hal-hal yang mengganjal di masa lalu bisa dicairkan.

Itu pula yang terjadi pada acara Halal bi Halal dan Silaturahmi guru dan murid SMP Kepanjen 1 Surabaya di Hotel Sommerset (Verwood) Surabaya, Minggu (23/7).

Selain bertemu teman lama di masa sekolah, suasana reuni siang itu kian berkesan ketika bisa bertemu guru yang dulu sempat memberi nilai jelek untuk mata pelajaran tertentu.

Hamid Nabhan misalnya, memanfaatkan pertemuan itu untuk menunjukkan rapornya di masa sekolah dulu.

“Pak Djasuli ini saya dulu kok dikasih nilai jelek ya,” kata Hamid bernada protes pada HM Djasuli Rindusara, yang ketika masih bertugas di SMP Kepanjen 1 Surabaya mengajar mata pelajaran kesenian.

Pria asal Bangkalan ini hanya tersenyum merespons ucapan mantan muridnya itu. “Kalau ada nilai 5 itu artinya ada materi yang tidak dikumpulkan saat menulis nilai rapor. Jangan-jangan kamu dulu nggak pernah kumpulkan tugas menggambar ya,” begitu serang balik Djasuli.

Menurut Djasuli, dia memberi ‘nilai aman’ 5 agar muridnya itu tetap bisa naik kelas. Kalau di bawah nilai 5 murid yang bersangkutan dipastikan tidak bisa naik kelas.

Djasuli yang sempat menjabat sebagai wakil kepala SMP Kepanjen 1 sebelum masuk masa pensiunnya itu mengaku bangga punya murid yang sekarang dikenal luas sebagai pelukis. “Ya sudah nilaimu aku ganti ya? Mau berapa? Aku kasih nilai 11 mau nggak?” begitu candanya.

Hj Sunarmi, salah seorang guru lainnya yang kebetulan mendengar obrolan soal nilai rapor itu pun ikut nimbrung. “Yang penting kan sekarang Hamid sudah jadi orang terkenal. Soal nilai itu kan masa lalu,” ujarnya mencoba menengahi.

Wanita yang akrab disapa Bu Mamik ini yakin Hamid terpacu oleh nilai jelek di rapornya tersebut. “Efek positifnya adalah sekarang dia bisa membuktikan penilaian masa lalu itu tidak benar, karena dia memang punya bakat terpendam di bidang melukis,” ujarnya.

Acara reuni itu pun jadi ajang bernostalgia mengenai kondisi sekolah yang ketika itu gabung satu gedung dengan SMP Negeri 2 Surabaya.

“Dulu yang negeri masuk pagi, sedang SMP Kepanjen 1 yang swasta kebagian siang. Dan guru-gurunya sebagian besar adalah guru SMPN 2 Surabaya,” ungkap Djasuli yang pensiun di tahun 2004. –din

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)