Tantangan ‘Kartini’ di Era Digital, Wakil Rakyat Ini Tegaskan Media Sosial Lebih Berbahaya daripada TV

962 views

Ahmad Basarah (wakil ketua MPR RI, ketiga dari kanan) sedang foto bareng artis Nona Ayu (dua dari kiri) dan para model dari Sarinah Mall Malang di acara Cantik ANTV yang diadakan di Sarinah Mall Malang, Sabtu (21/4).

iniSURABAYA – Kartini modern memang tak hanya identik dengan sanggul dan konde. Sosok ‘Kartini’ di era digital sekarang punya tanggung jawab lebih besar, terutama untuk mengawal anaknya sebagai generasi penerus bangsa agar memperoleh informasi secara tepat dan benar.

Menghadapi revolusi media, baik yang terjadi pada media massa mainstream maupun media sosial (medsos) peran perempuan Indonesia sangat penting. “Suka atau tidak, kemajuan teknologi didukung tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia membuat hampir seluruh rumah tangga di Indonesia punya televisi. Dari pagi sampai pagi lagi beritanya berputar dan anak-anak kita sebagian diasuh dan dididik oleh tayangan sinetron di televisi,” tegas Ahmad Basarah (Wakil Ketua MPR RI).

Hadir sebagai narasumber di acara Cantik ANTV yang diselenggarakan di Sarinah Mall Malang, Sabtu (21/4/2018), politikus dari PDIP ini mengingatkan, katagori tayangan seperti bimbingan orangtua atau tayangan remaja harus betul-betul dipatuhi sehingga tidak berdampak negatif bagi anak-anak yang menontonnya.

“Setiap hari anak-anak nonton acara TV selama 4-5 jam. Jika tanpa bimbingan orangtua, atau jika orangtua lengah maka dampaknya luar biasa bagi anak-anak,” ujarnya.

Yang tidak kalah penting, lanjut Ahmad Basarah, adalah dampak yang ditimbulkan lewat media sosial (medsos) yang belakangan makin mudah diakses lewat gawai. Dampak buruk informasi yang bertebaran di medsos ini bahkan bisa lebih buruk daripada yang disajikan di layar kaca (televisi).

Sebab, semua informasi bisa masuk dengan bebas tanpa ada filternya. “Kalau TV, radio, dan media online masih ada lembaga seperti PWI dan KPI yang mengawasi tapi medsos (media sosial) belum ada lembaga yang mengawasi,” katanya.

Ahmad Basarah lalu mengambil contoh, rekrutmen teroris maupun kampanye LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual) yang banyak bertebaran di masyarakat belakangan juga menyasar generasi muda lewat media sosial.

“Jadi ibu-ibu harus lebih hati-hati memberikan telepon seluler kepada anak-anak. Sebab, saat ini di medsos belum ada hakim, juri, atau pengawasnya,” imbuh Ahmad Basarah.

Diakui, regulasi yang mengatur penggunaan medsos di Indonesia saat ini belum ada. Karena itu DPR sudah menginisiasi dibentuknya regulasi yg mengatur medsos di Indonesia.

“Sekarang masih dalam kajian akademis yang dilakukan oleh DPR RI,” ungkapnya.

Ahmad Basarah berharap, nantinya infrastruktur yang dimiliki oleh pemerintah seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika punya wewenang cukup menjangkau pengaturan penggunaan medsos.

“Sehingga FB (Facebook), Line, Instagram yang masuk Indonesia harus menyesuaikan dengan UU Indonesia. Nggak bisa masuk ke wilayah hukum Indonesia tapi peraturan mereka buat sendiri,” tandasnya.

Acara bertema literasi media untuk memeringati Hari Kartini ini makin meriah dengan hadirnya dua artis ibukota, Nona Ayu dan Sendy Ariani (mantan personel Jkt48). Kegiatan yang juga menghadirkan Hardly Stefano (Komisioner KPI Pusat), dan Monica Desideria (mantan presenter Lensa Olahraga ANTV) sebagai narasumber ini juga sempat dibuah heboh oleh aksi Komunitas Zumba yang senam dengan arahan instruktur zumba di area teras Sarinah Mall Malang. dit/sum

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)