Seni Ludruk Tak Akan Hilang dari Kota Surabaya, Begini Keyakinan Meimura

142 views

iniSURABAYA – Setelah sukses digeber di panggung Orasi Budaya yang diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober lalu, ludruk bertajuk ‘Lautku, Lautmu, Laut Kita’ kembali disajikan secara khusus dan dalam format lengkap pada Sabtu (3/11/2018).

Pertunjukan ludruk selama 90 menit yang didominasi pemain anak-anak ini juga masih dipentaskan di Balai Budaya, Kompleks Balai Pemuda Surabaya. “Kali ini pementasannya dalam versi yang lengkap,” tegas Meimura, penulis cerita sekaligus sutradara ludruk dalam cerita ‘Lautku, Lautmu, Laut Kita’.

Meimura tak menepis bahwa cerita ludruk kali ini mengeksplorasi kekayaan laut Tanah Air yang selama ini tak pernah diangkat ke panggung ludruk. “Selama ini cerita ludruk hanya bertutur soal daratan. Padahal negeri ini dikelilingi oleh laut,” tuturnya.

Fakta itu pula yang membuat Meimura untuk menyiapkan cerita seputar kekayaan laut Indonesia. “Saya ingin memapar bahwa Indonesia bukan hanya daratan. Cerita ini juga untuk menunjukkan kecintaan kita pada laut dan segala isinya,” imbuhnya.

Meski didominasi pemain anak-anak, Meimura menyatakan tak mengalami kesulitan saat menyajikan ludruk ‘Lautku, Lautmu, Laut Kita’. Sebab, lanjut Meimura, saat ini sudah banyak anak-anak yang menunjukkan minatnya gabung dalam pementasan seni ludruk.

Meimura lalu menunjuk dua wadah kesenian ludruk yang diajaknya turut gabung dalam pementasan kali ini, yaitu Sanggar Medang Taruno Budoyo, dan Pusat Olahseni Budaya Mulyorejo Enterprise. “Sanggar seperti ini banyak mendidik anak-anak berkesenian ludruk,” paparnya.

Diungkapkan pula, belakangan memang banyak lembaga pendidikan yang memberi perhatian serius pada kesenian ludruk. Fenomena ini pula yang membuat Meimura memberi apresiasi pada kepedulian yang diberikan lembaga pendidikan tersebut.

“Sebelum pementasan ludruk nanti akan saya serahkan piagam penghargaan pada 16 SD negeri dan swasta yang punya ekstrakulikuler seni ludruk,” ucapnya.

Kepedulian itu pula yang membuat Meimura meyakini kesenian ludruk tidak akan hilang dari Kota Surabaya. “Pendidikan seni ludruk di lembaga pendidikan ini wujud keinginan banyak pihak khususnya penyelenggara pendidikan agar seni ludruk tidak punah,” tandasnya.

Efeknya, menurut Meimura, pentas-pentas ludruk yang disajikan di tobong ludruk di Gedung Kesenian THR selalu dipenuhi penonton yang sebagian besar adalah anak-anak dan remaja. “Semangat ini harus terus kita jaga agar seni ludruk tetap hadir di Surabaya,” pungkasnya. dit

#balaibudaya #balaipemuda #gedungkesenianTHR #seniludruk

Posting Terkait