Digitalisasi Musik Bikin Produk Fisik Hilang, Tetapi Ini Efek Positifnya Buat Musisi

1069 views
Hengki Herwanto dan Redy Eko Prastyo tampil di acara Museum Talk yang diselenggarakan House of Sampoerna dalam rangkaian kegiatan Pameran Museum ‘Indonesia Bermusik’.

iniSURABAYA.com – Era digitalisasi dan teknologi di setiap sektor tidak dapat dihindari termasuk industry musik. Mulai dari era piringan hitam, kaset pita, compact disc (CD) atau Digital Video Disc (DVD), dan yang sedang tren saat ini adalah musik berbasis streaming.

Redy Eko Prastyo, Manager Stasiun UB Radio mengakui bahwa tren digitalisasi musik memberikan dampak positif berupa kemudahan bagi pendengar dan musisi. Hadirnya terobosan aplikasi musik seperti Spotify, Joox, YouTube, maupun Soundcloud terbukti mampu mengurangi pembajakan.

“Kalau mau mendengarkan musik, sekarang cukup dengan sekali klik sudah bisa menikmati lagu-lagu yang disukai,” tegas Redy saat tampil sebagai narasumber di acara Museum Talk bertajuk ‘Digitalisasi Musik’, Sabtu (6/4/2019).

Digitalisasi musik ini diakui Redy juga memberi efek positif bagi musisi. Karena musisi dapat mengelola secara independen terkait kebutuhan distribusinya tanpa ada birokrasi distribusi.

“Sehingga, hak mendistribusikan karya akan bisa langsung dieksekusi oleh musisi itu sendiri,” tandas Redy yang juga musisi ini.

Penggagas Jaringan Kampung Nusantara (www.japungnusantara.org) ini menambahkan, digitalisasi musik juga memiliki dampak positif bagi alam. Sebab dari sisi kemasan, dapat menghemat kertas untuk sampul.

Di kesempatan yang sama, Hengki Herwanto, Ketua Museum Musik Indonesia, mendukung pernyatan Redy. “Langkah digitalisasi musik cukup efektif dalam menyelamatkan lagu dan musik yang pernah terekam di masa lalu,” ungkapnya.

Dalam proses digitalisasi, musik didokumentasi dengan rapi mulai judul, penyanyi, pencipta, tahun, label produksi serta data lain yang dirasa penting.

Hingga saat ini Museum Musik Indonesia telah mendigitalisasi sekitar 28.000 musik dalam bentuk lagu dari total sekitar 200.000 koleksi dari tahun 1960 sampai 2016.

Kendati demikian, tak dapat ditampik bahwa digitalisasi secara otomatis membuat produk fisik menghilang secara pelan namun pasti.

Puncak kejayaan rilisan fisik terasa hingga tahun 2010, seiring dengan meroketnya ring back tone (RBT) sepanjang tahun 2008-2010.

Museum Talk yang menampilkan dua narasumber, Hengki Herwanto dan Redy Eko Prastyo ini masih dalam rangkaian kegiatan Pameran Museum ‘Indonesia Bermusik’ yang diselenggarakan House of Sampoerna  dari tanggal 20 Maret – 28 April 2019. dit

#digitalisasimusik #houseofsampoerna musik

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)