Pemirsa Film Indonesia Kekurangan Layar, VIU Hadirkan Solusi Seperti Ini

69 views

iniSURABAYA.com – Berkembang pesatnya industri film di negeri ini, ternyata tidak diimbangi dengan jumlah layar yang memadai. Situasi yang dihadapi para sineas makin tidak menguntungkan karena pengelolaan layar di gedung bioskop dimonopoli pihak swasta yang tidak menguntungkan perfilman Tanah Air.

Menurut Myra Suraryo, Senior Vice President Marketing Viu, satu layar untuk 200.000 penduduk Indonesia. Ironisnya, lanjut Myra, layar yang disediakan oleh pihak swasta itu 90 persen didedikasikan untuk film Hollywood daripada untuk tayangan film Indonesia.

Untuk itulah, VIU sebagai layanan video on demand service memberi peluang pada masyarakat Indonesia untuk menyaksikan lebih banyak film buatan anak bangsa.

“Hadirnya VIU bisa menjadi solusi permasalahan di Indonesia yang kekurangan jumlah screen. Sebab, Viu bisa menayangkan puluhan ribu jam tayang. Itu artinya seperti menambah jumlah screen,” tegasnya.

VIU yang juga menayangkan film-film dari 17 negara Asia ini, lanjut Myra, bisa menjadi kanvas bagi para sineas Indonesia. “Sisi positifnya, VIU bisa membuat pemirsa Indonesia terus menikmati tayangan berkualitas baik, tidak hanya dari segi teknis gambar tetapi juga muatan kontennya,” tutur Myra.

Lebih lanjut Myra menyatakan, saat ini banyak masyarakat Indonesia, khususnya di pelosok kota kecil (kabupaten), tidak bisa menyaksikan film karena tidak adanya teater (gedung bioskop).

“Sementara VIU bisa menjangkau sampai pelosok Indonesia melalui fasilitas internet,” tandasnya kepada iniSurabaya.com di sela nonton bareng film ‘Halustik’. Film pemenang Viu Pitching Forum 2018 ini adalah karya Sally Anom, mahasiswa Insititut Teknologi Bandung.

Hadirnya VIU ini ditekankan Myra juga menjadi angin segar bagi sineas Indonesia yang selama ini mengalami kesulitan karyanya bisa tayang di screen yang ada.

“Saat ini di Indonesia tidak ada peraturan mengenai penayangan film. Yang ada lembaga sensor. Tetapi tidak ada aturan berapa persen layar di Indonesia untuk muatan lokal. Ini jelas tidak menolong industrinya,” cetus Myra.

Myra menyatakan pula bahwa VIU yang berbasis di Silicon Valley, USA, ini berkomitmen untuk mengangkat konten lokal yang diproduksi oleh sineas lokal namun dengan kualitas serta punya daya tarik internasional. “Viu hanya menayangkan film disesuaikan karakter dan kebutuhan di negara tersebut,” ujarnya. dit

#film #videoondemandservice #viu #viupitchingforum

Posting Terkait