Arindy Curahkan Proses Jatuh Bangun Merawat Anak Autis di ‘Keajaiban Itu Bernama Ruth’

148 views

Wardhani Indriati (kanan) didampingi anaknya, Ruth Anchilla saat launching buku ‘Keajaiban Itu Bernama Ruth’ di Gramedia Expo Surabaya, Minggu (12/5/2019). (foto-foto: Virgita Kasih Arwinda)

iniSURABAYA.com – “Anak-anak harus kembali mencintai dan bangga akan dirinya sendiri. Hal ini dapat memicu pertumbuhan anak ke arah yang lebih baik.”  

Begitu ditegaskan Wardhani Indriati lewat bukunya berjudul ‘Keajaiban Itu Bernama Ruth’. Melalui buku tersebut, wanita yang dikenal dengan sapaan Arindy ini berharap bisa menyampaikan pesan secara mudah ke seluruh masyarakat Indonesia, bahkan dunia mengenai perjalanan yang dia tempuh saat merawat Ruth Anchilla, anaknya yang menderita autis. 

Ditemui di acara launching buku ‘Keajaiban Itu Bernama Ruth’ di Gramedia Expo Surabaya, Minggu (12/5/2019), Arindy mengungkapkan pengalamannya bersama seluruh keluarga menghadapi masalah-masalah yang hadir dalam kehidupan saat membesarkan Ruth Anchilla.

Ruth Anchilla saat menandatangani buku tentang dirinya yang ditulis sang mama.

Menurut Arindy, yang dia lakukan selama ini merupakan perjalanan panjang saat anaknya divonis menyandang autisme di usia 1,5 tahun. Namun, dia bersyukur mampu membuktikan bahwa anak autisme juga bisa berprestasi dan meraih mimpi-mimpinya layaknya anak-anak pada umumnya.

Dalam buku tersebut, Arindy mencurahkan semua isi hatinya dan menceritakan kisah perjalanan kehidupan Ruth secara lengkap dari Ruth berusia 1,5 tahun hingga usia 22 tahun. Buku yang ditulis berdasarkan kisah nyata ini, menjadikan Ruth sebagai tokoh central dalam cerita di buku ini.

Pengalamannya membesarkan anak autisme, membuat hatinya tergerak untuk membuat sebuah buku yang dipersembahkan kepada seluruh masyarakat agar mereka lebih mampu memahami anak-anak penyandang autisme dan dapat menangani mereka dengan lebih baik lagi.

“Anak autis itu tidak seperti yang diceritakan orang pada umumnya. Kebanyakan dari mereka cenderung menutup-nutupi karena dinilai memalukan,” ujarnya.

Padahal, masih kata Arindy, jika anak-anak itu berada di lingkungkan yang baik, maka anak-anak ini dapat menuju ke arah yang lebih baik lagi dalam tumbuh kembangnya.

Proses pembuatan buku ini terbilang cukup singkat. Dimulai bulan September 2018 hingga naskah jadi pada akhir bulan Desember 2018. Kemudian masuk proses editing hingga selesai bulan April 2019.

“Melalui buku ini saya ingin terus menyuarakan misi untuk menyelamatkan masa depan anak-anak autis di dunia dengan segala bakat dan potensi yang dianugerahkan Tuhan pada mereka,” tegasnya.

Sementara Ruth Anchilla yang ditemui usai acara launching buku tersebut menyatakan bahwa awalnya dia keberatan atas niat sang mama membuat buku yang menceritakan mengenai kondisinya.

“Saya keberatan karena sebuah cerita lama dibuka kembali kan layaknya luka lama dibuka kembali juga,” cetus Ruth.

Tetapi Ruth lalu mendapat banyak saran dari teman-teman yang akhirnya membuat dia memutuskan mendukung niatan sang mama tersebut. Ruth berharap buku itu bisa jadi bentuk ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta dan juga kepada semua orang yang membacanya. ita

#anakautis #keajaibanitubernamaruth

Posting Terkait