Wow! Ternyata Sejak Tahun 1923 Jalan Tunjungan Sudah Jadi Tempat Santai dan Belanja Primadona Para Tuan dan Nyonya Eropa!

255 views
Surabaya Heritage Track yang diluncurkan sejak tahun 2009 ini selalu menarik perhatian masyarakat yang ingin menelusuri sejarah dan bangunan cagar budaya di Surabaya. (foto-foto: dok. House of Sampoerna)

iniSURABAYA.com – Sejak 2010 Surabaya Heritage Track (SHT) telah menyelanggarakan 47 tur tematik dan mengunjungi lebih dari 70 bangunan cagar budaya.

Objek yang dikunjungi diantaranya adalah museum, institusi pemerintahan dan swasta, tempat peribadatan, monumen, kampung, pasar, perpustakaan, pabrik, dan sejumlah objek bersejarah lainnya.

Program ini juga menginisiasi Heritage Walk dengan nama ‘Klinong-klinong ning Suroboyo’ yang menjadi pengembangan SHT dengan mengajak trackers untuk secara langsung berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Kegiatan ‘Menelusui Jejak Warisan Surabaya’ yang diluncurkan di tahun 2009 ini berupa konsep tur keliling kota menggunakan bis bermodel kereta trem yang pernah berjalan di Surabaya tempo dulu.

Tracker (penumpang bis) dapat menikmati dan mengenal sejarah bangunan-bangunan cagar budaya, sejarah kota Surabaya yang terkenal sebagai kota pahlawan, kisah Babad Surabaya, serta kekayaan ragam budaya khas Arek yang menjadi ciri khas Surabaya.

Khusus di bulan Juni ini  SHT mengangkat tema ‘Rekreasi Kota Kolonial’. SHT yang diadakan selama tanggal 7–30 Juni 2019 itu mengajak masyarakat untuk melihat serta mengunjungi tempat wisata seperti kawasan Jalan Tunjungan, Balai Pemuda di Jalan Gubernur Suryo No 15, serta Graha Es Krim Zangrandi di Jalan Yos Sudarso No. 15. dit

Ada pun titik pemberhentian yaitu di :
– Tunjungan Straat :
Jalan Tunjungan yang dulu disebut Petoendjoengan menjadi primadona bagi para tuan dan nyonya yang ingin bersantai sekaligus berbelanja.

Di tahun 1923 kawasan Tunjungan telah menjadi salah satu pusat komersial Kota Surabaya. Sebuah perusahaan perdagangan besar dari Inggris, Whiteaway Laidlaw & Co memutuskan untuk membangun sebuah toko di ujung utara Jalan Tunjungan ini.

Baca Juga : http://inisurabaya.com/2019/06/dimana-para-elit-eropa-berpesta-di-masa-kolonial-yuk-telusuri-di-program-rekreasi-kota-kolonial-ini/

Toko inilah yang kemudian menjadikan Tunjungan semakin terkenal sebagai pusat perbelanjaan. Selain itu terdapat juga toko serba ada yang bernama Aurora yang berganti menjadi gedung bioskop, toko Mattalitti yang menjual piringan hitam gramophone dan terdapat Hotel Oranye yang merupakan hotel terkenal yang sekarang menjadi Hotel Majapahit.

–  Simpangsche Societeit :
Gedung Balai Pemuda didirikan pada tahun 1907. Dulunya gedung tersebut adalah gedung pertemuan bagi orang-orang Belanda yang dinamakan Simpangsche Societeit. 

Tempat ini salah satu kawasan hiburan dan berkumpulnya orang-orang Eropa (khususnya Belanda) di Surabaya. Pada masa kolonial adalah hanya orang-orang kulit putih yang memiliki akses masuk ke gedung ini.

– Renato Zangrandi’s Ijspaleis :
Restoran es krim ini dibangun oleh Renato Zangrandi pada 1930 guna memenuhi kebutuhan warga Eropa yang ada di Kota Surabaya pada waktu itu.

Dulunya, depot es krim ini bernama Renato Zangrandi’s Ijspaleis dan berlokasi tepat di seberang Simpangsche Societeit yang sekarang bernama kompleks Balai Pemuda.

Sebagian dari menu-menu yang dijajakan juga telah ada sejak 1930. Misalnya es krim potong Tutti Frutti yang merupakan menu original paling tua di Zangrandi yang dijajakan dalam berbagai varian rasa es krim yang dicampur dengan potongan buah kering.

#houseofsampoerna #rekreasikotakolonial #surabayaheritagetrack

Posting Terkait