Naik Sepur Kluthuk Jaladara, Menembus Tengah Kota Solo dari Stasiun Purwosari-Stasiun Sangkrah, Seperti Ini Sensasinya

785 views
Sepur Kluthuk Jaladara jadi wahana wisata transportasi kuno favorit bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke Solo. Lokomotif sepur kluthuk ini adalah buatan Jerman pada tahun 1896.

iniSURABAYA.com | SOLO – “Naik kereta api…tut…tut…tut ..Siapa hendak turut….”

Tetapi kelanjutan lagu anak-anak ciptaan Ibu Sud ini bukan,”Ke Bandung …Surabaya.”

Untuk naik Sepur Kluthuk Jaladara ini cukup dari Stasiun Purwosari dan pemberhentian akhir di Stasiun Solo Kota di Sangkrah sejauh 5 km. Kereta api dengan bahan bakar kayu bakar ini akan kembali lagi ke Stasiun Purwosari melalui rute yang sama.

Kesempatan menikmati perjalanan ‘wisata’ di Kota Budaya Solo menggunakan sepur kluthuk ini diperoleh iniSurabaya.com bersama rombongan #soloinspirationaltrip yang dikoordinir oleh manajemen Hotel Alila Solo.

Perjalanan dari titik Stasiun Purwosari hingga Stasiun Sangkrah, Solo Kota ini keseluruhan ditempuh selama 2,5 jam PP (pergi pulang). Selama perjalanan kereta akan berhenti di dua objek wisata berbeda.

Saat berangkat sepur kluthuk akan berhenti di objek wisata Lodji Gandrung atau Rumah Dinas Wali Kota Solo. Dan saat kembali kereta yang membawa dua gerbong ini berhenti di Museum Radya Pustaka, perpustakaan tertua di Indonesia.

Operasionalisasi moda transportasi kuno ini diprakarsai oleh Joko Widodo saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo pada tahun 2009. Lokomotif Sepur Kluthuk ini adalah kereta buatan Jerman pada tahun 1896.

Nama Jaladara, diambil dari kereta pusaka yang dihadiahkan para Dewa kepada Prabu Kresna untuk membasmi kejahatan. “Waktu Pemerintahan Hindia Belanda kereta ini digunakan sebagai alat transportasi jarak pendek,” kata Rahwanti, Humas Dinas Perhubungan Kota Solo.

Lokomotif bernomor C1218 ini menarik dua gerbong yang terbuat dari kayu jati. Kapasitas penumpang di dua gerbong ini 70 orang. Kecepatan sepur kluthuk ini rata-rata sekitar 20-30 km/jam menyusuri rel yang melintas di tengah Kota Bengawan tersebut.

Untuk bisa menikmati perjalanan naik Sepur Kluthuk Jaladara ini bisa menghubungi Dinas Perhubungan Kota Solo yang mengelola kereta api kuno tersebut. “Biayanya 3,5 juta dengan fasilitas dua gerbong,” papar Rahwanti.

Rahwanti mengungkapkan, biasana oleh event organizer perjalanan wisata budaya naik kereta up itu ditawarkan ke wisatawan dengan harga Rp 200.000 per-orang.

Diakui Rahwanti wisata Sepur Kluthuk Jaladara ini tergolong mahal lantaran biaya operasional kereta yang menggunakan bahan bakar kayu jati ini juga terhitung mahal. Selain itu lokomotif ini juga membutuhkan air dalam jumlah banyak untuk menghasilkan uap guna menggerakkan lokomotifnya.

Setidaknya butuh 4 meter2 air dan 5 meter2 kayu untuk jarak tempuh dari Stasiun Purwosari sampai Stasiun Sangkrah yang jauhnya berkisar 5 km itu. dit/dbs

#kotasolo #lodjigandrung #museumradyapustaka #wahanawisata

Posting Terkait