Menelusui Jejak Warisan Surabaya, Inilah Rute Baru Surabaya Heritage Track (2)

1078 views
Rute baru Surabaya Heritage Track menghadirkan enam tema berbeda dalam sepekan yang bisa dinikmati mulai Selasa (3/9/2019).

iniSURABAYA.com – Dalam upaya memperkenalkan konsep ‘Museum Luar Ruang’, House of Sampoerna menghadirkan program ‘Menelusui Jejak Warisan Surabaya’.

Kegiatan dalam bentuk tur keliling kota menggunakan bis bermodel kereta trem yang pernah berjalan di Surabaya tempo dulu ini diklaim sebagai program yang pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia.

“Kami ingin menunjukkan bangunan cagar budaya di sekeliling House of Sampoerna (HoS), serta menjadikannya sebagai daya tarik pariwisata Surabaya,” ujar Rani Anggraini, Manager House of Sampoerna kepada iniSurabaya.com, Selasa (3/9/2019).

Dalam upaya untuk terus mendukung Surabaya sebagai destinasi wisata, sejak 2010 Surabaya Heritage Track (SHT) telah menyelenggarakan 47 tur tematik  yang diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu. 
Baca Juga : http://inisurabaya.com/2019/09/menelusui-jejak-warisan-surabaya-inilah-rute-baru-surabaya-heritage-track-1/
Termasuk di antaranya adalah ‘We Love Book’ yang diselenggarakan pada Hari Pendidikan Nasional, ‘Visit Museum’ untuk memperingati Hari Museum Internasional, maupun ‘Heroic Track’ selama bulan November untuk memperingati Hari Pahlawan. 

Dalam perjalanannya SHT telah mengunjungi lebih dari 70 bangunan cagar budaya, diantaranya dalam bentuk museum, institusi pemerintahan dan swasta, tempat peribadatan, monumen, kampung, pasar, perpustakaan, dan pabrik.

Rute baru untuk program ‘Menelusui Jejak Warisan Surabaya’ kali ini adalah menyajikan kekayaan ragam budaya khas Arek yang diwujudkan dalam enam tur reguler setiap hari Selasa hingga Minggu.

Untuk Selasa-Kamis misalnya, pukul 10.00-11.00 temanya adalah Surabaya Kota Pendidikan, dilanjut pukul 13.00-14.00 Surabaya Kota Pahlawan, dan pukul 15.00-16.00 Surabaya Kota Pelabuhan. 

Sedang pada hari Jumat-Minggu, pukul 10.00-11.30 perjalanan bus menuju ‘Kampung dari Seberang’, pukul 13.00-14.30 (Surabaya Kampung Metropolitan), dan pukul 15.00-16.30 (Gerbang Keraton Surabaya). dit

Rute Jumat-Minggu:

Tur I: Kampung dari Seberang Tur II: Surabaya Kampung Metropolitan Shift III: Gerbang Keraton Surabaya
10.00-11.30 13.00-14.30 15.00-16.30
HoS – Kawasan Pecinan – Kawasan Ampel – HoS HoS–Kampung Peneleh – Kampung Ketandan – HoS HoS –  Kampung Keraton – Kampung Tumenggungan – Kampung Bubutan  – HoS
Melalui Rajawali ke Karet berhenti di Karet melalui Kembang Jepun ke Dukuh berhenti di Ampel melalui Iskandar Muda ke Benteng melalui Kalimas Barat kembali ke HoS Melalui Rajawali ke Pa- sar Besar berhenti di Kampung Peneleh melalui Gemblongan ke Tunjungan berhenti di Kampung Ketandan melalui Embong Malang ke Bubutan lewat Indrapura balik ke HoS Melalui Rajawali ke Pahlawan berhenti di Kampung Keraton melalui Gemblongan ke Bubutan berhenti di Kampung Bubutan lewat Indrapura kembali ke HoS
Destinasi: – Kawasan Pecinan – Kawasan Ampel Destinasi: – Kampung Peneleh – Kampung Ketandan Destinasi: – Kampug Keraton – Kampung Tumenggungan – Kampung Bubutan

Materi Cerita:
Kampung dari Seberang
Pada tahun 1843, Belanda memberlakukan Wijkenstelsel atau pembagian wilayah pemukiman di Kota Surabaya berdasarkan ras atau etnis penduduknya.
Kalimas sendiri digunakan sebagai pembatasnya, yaitu sisi Barat diperuntukkan bagi pemukiman orang Eropa, sedangkan sisi Timur dari Kalimas khusus bagi masyarakat Timur Asing (Vremde Oosterlingen) yang terdiri dari pemukiman masyarakat etnis Tionghoa dan Arab.

Kebijakan ini berdampak pada segregasi kawasan hunian bagi orang Eropa, Tionghoa dan Arab yang masih tampak jelas dari arsitektur bangunan yang hingga sekarang masih ada. Pemisahan wilayah tersebut juga berdampak pada budaya dan tradisi masyarakat yang terus berkembang.

Surabaya Kampung Metropolitan
Surabaya merupakan metropolis besar dengan jaringan kampung yang bermula di sepanjang Kali Mas menjadi asal-usulnya. Sebut saja Kraton Surabaya yang berpusat tak jauh dari Kali Mas, dengan kampung-kampung kecil penopang yang juga tersebar di sekitar kawasan sungai tersebut.

Seperti Peneleh, Maspati, Carikan, Plampitan Bubutan maupun Ketandan. Eksistensi kampung-kampung itu hingga kini masih bisa ditelusuri dan menjadi wujud preservasi kota Surabaya.

Gerbang Keraton Surabaya
Tata ruang Keraton Surabaya disusun berdasarkan paham kosmologi konsep budaya Jawa. Penataannya mengikuti pola dasar yang memperhatikan empat arah mata angin dengan suatu anggapan bahwa kota merupakan suatu organisme hidup dan dianalogikan sebagai tubuh manusia berupa kepala, badan dan kaki.
Utara merupakan simbol dari ‘kepala’ yang menunjukkan hal resmi dan kebesaran. Selatan menyimbolkan ‘keluarga’ serta ‘keturunan’. Sisi Timur melambangkan hal ‘keduniawian’ serta ‘pekerjaan’, sedangkan Barat merupakan perlambang ‘kejiwaan’ dan ‘rohaniah’.

#houseofsampoerna #menelusurijejakwarisansurabaya #surabayaheritagetrack

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)