Terbang dari Papua, Herlina Sukses Jalani Operasi Wajah Merot, Begini Proses yang Dilakukan Tim Dokter Ahli Bedah Syaraf KBSC

38 views

iniSURABAYA.com – Tim dokter ahli bedah syaraf dari Kortex Comprehensive Brain and Spine (KBSC) berhasil melakukan live surgery bedah saraf terhadap pasien bernama Herlina (30) di National Hospital, Kamis (19/9/2019).

Wanita yang bekerja di Manokwari, Papua ini adalah penderita Hemifacial Spasm atau yang lebih dikenal sebagai wajah merot. Operasi yang berlangsung sekitar satu jam itu berlangsung sukses, dan pasien bisa langsung merasakan hasilnya, wajah normal seperti sebelum merot.

Operasi bedah syaraf yang kali ini melibatkan tim KBSC dr Budi Setiawan, dr M Sofyanto, dr Agus Anab, dr Bambang K, dan dr Gigih Pramono ini memang sudah sering dilakukan.

Herlina sebelum menjalani operasi

“Sejak 2016, kami sudah melakukan 1000 kali operasi,” ujar Gigih Pramono usai pelaksanaan operasi.

Menurut Gigih, tingkat keberhasilan operasi Hemifacial Spasm cukup tinggi, yaitu 98 persen langsung sembuh. “Sedang yang 2 persen untuk sembuh total harus menunggu 2 sampai 3 hari setelah operasi,” paparnya.

Ditekankan Gigih, Hemifacial Spasm (HFS) bukanlah penyakit, melainkan kondisi alami akibat perlengketan antara saraf nomor tujuh yang berfungsi mengatur gerakan wajah dengan pembuluh darah pada otak. Akibatnya gerakan pada wajah menjadi tidak terkendali, dan wajah pasien menjadi merot. 

Herlina pasca operasi didampingi anak dan suami (kanan) bersama para dokter ahli KBSC.

Untuk memulihkan agar gerakan wajah normal kembali, tim dokter ahli dari KBSC  melakukan operasi di area batang otak Herlina menggunakan proses medis microvascular decompression (MVD) dengan teknik operasi lubang kunci atau keyhole surgery

Dokter Gigih menjelaskan proses operasi yang dilakukan dokter bedah syaraf melalui layar TV.

Operasi dilakukan dengan bantuan mikroskop khusus dan alat-alat monitoring di kamar operasi. Semua tindakan bisa disaksikan langsung di monitor TV oleh keluarga penderita dan juga bisa berdialog langsung dengan tim dokter (live surgery). 

“Waktu operasi jadi lebih pendek hanya 70 menit dan memperpendek waktu rawat inap di rumah sakit,” ungkap Gigih.

Dengan demikian, dalam proses operasi saraf ini tidak diperlukan lagi melakukan pembukaan batok kepala, cukup membuat lubang kecil diameter satu sentimeter di belakang telinga pasien. 

Melalui lubang kecil seukuran lubang kunci tersebut tim dokter ahli KBSC memisahkan saraf nomor tujuh dengan memasang serabut teflon agar tidak lengket dengan pembuluh darah. dit

#kortex #kortexcomprehensivebrainandspine #nationalhospital #papua #wajahmerot

Posting Terkait