Dua Kali Gagal Laksanakan PSBB, Pemkab Sidoarjo Akan Maksimalkan Peran Desa dan Kelurahan

149 views
Rapid test dilakukan di tempat saat petugas melakukan razia jam malam di Sidoarjo.

iniSURABAYA.com | SIDOARJO – Minimnya disiplin masyarakat membuat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tiga daerah di Jawa Timur, Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik tak terlaksana bagus sehingga perlu dilanjutkan PSBB ke-3.

Bertolak dari fakta itu pula, Pemkab Sidoarjo akan memaksimalkan peran di tingkat desa dan kelurahan, khususnya dalam penerapan disiplin masyarakat dalam menjalankan peraturan PSBB serta memenuhi protokol kesehatan yang baik untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

“Dalam pelaksanaannya, perangkat desa dibantu Babinkamtibmas dan Babinsa,” ujar Kombes Pol Sumardji, Kapolresta Sidoarjo, Selasa (26/5/2020).

Sumardji menegaskan, PSBB ke-3 yang dimulai Selasa (26/5/2020) dan berlangsung hingga 8 Juni 2020 ini bakal dioptimalkan di kampung-kampung dan kompleks perumahan. Optimalisasi PSBB ke-3 ini, lanjut Sumardji, termasuk penindakan terhadap warga yang melanggar yang bakal dilakukan aparat dan perangkat desa setempat.

“Penindakan atau sanksi dilakukan di desa. Dasarnya sama, Peraturan Bupati (Perbup) tentang PSBB,” urainya.

Sumardji menyatakan, untuk memaksimalkan PSBB di tingkat desa, polisi bersama TNI dan Satpol PP juga dimaksimalkan kinerjanya di desa-desa.  

“Artinya, kegiatan-kegiatan penanganan PSBB yang sebelumnya tersentra di Polres dan Pemkab Sidoarjo kali ini bergeser di desa-desa dan kelurahan,” tandasnya.

Diharapkan, penguatan fungsi di tingkat desa bakal maksimal sehingga PSBB tahap tiga bisa lebih bagus hasilnya dibanding dua tahapan sebelumnya.

Diakui kapolres, pelaksanaan PSBB tahap dua memang jauh dari harapan, bahkan terbilang tidak berhasil sama sekali.

Sementara Nur Ahmad Syaifuddin, Plt Bupati Sidoarjo menyatakan hal senada. Pria yang akrab disapa Cak Nur ini mengaku bahwa dari hasil evaluasi pelaksanaan PSBB tahap kedua banyak kekurangan sehingga perlu dilakukan pembenahan.

Salah satu indikasi kegagalan itu adalah jumlah pasien positif yang meningkat tajam selama PSBB ke2. Hingga saat ini terhitung sudah ada 542 orang pasien positif di Sidoarjo.

“Sekitar 60 persen penambahan pasien positif berasal dari PDP. Artinya, mayoritas penambahan itu karena tes yang semakin banyaknya dilakukan,” ungkapnya.

Selama ini, sudah dilakukan lebih dari 10.000 rapid test. Mereka yang reaktif lanjut swab test, dan hasilnya memang cukup banyak yang positif.

“Penambahan terbanyak akhir-akhir ini ada di wilayah perbatasan, yakni di Kecamatan Waru dan Taman,” ungkapnya.

Melalui PSBB berbasis desa Cak Nur berharap penyebaran Covid-19 bisa semakin ditekan. Kuncinya, aparat desa bersama Babinkamtibmas dan Babinsa harus lebih maksimal dalam melakukan pembatasan.

Surat keterangan RT/RW tetap berlaku selama PSBB ke-3. Orang luar diusahakan jangan keluar masuk di desa atau perkampungan.

Cak Nur berharap pemeriksaan di tingkat desa ini diharap bisa lebih maksimal.

“Aparat desa harus lebih tegas. Aturannya ada di Perbup dan bisa ditambahkan melalui Perdes. Termasuk anggaran, bisa dengan realokasi APBDes atau dari APBD Sidoarjo,” pungkasnya. dit

#jammalam #pembatasansosialberskalabesar #pemkabsidoarjo

Posting Terkait