‘Evita’, Perpaduan Musik Banyuwangi X China, dan Gunakan 3 Bahasa sebagai Ungkapan Kerinduan di Masa Pandemi

1211 views

iniSURABAYA.com – Produser Rifo Octavian a.k.a Rifofo dan Gandhi Prasetya a.k.a Gandhi Shiro kembali berkolaborasi. Jika sebelumnya mereka menghasilkan single ‘Evelyn’, kali ini lahir single ‘Evita’.  

Kolaborasi perdana mereka terbilang sukses lantaran single ‘Evelyn’ dinominasikan dalam AMI Awards 2019 untuk kategori Karya Produksi Progressive Terbaik.

Tetap dengan nuansa Jawa Timuran yaitu Banyuwangi, pembuatan single ‘Evita’ melibatkan tiga kolaborator lain. Mereka adalah Radhica Isac yang asal Moldova-Rumania tetapi tinggal di Inggris, Eka Ayu Wulandari dari STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya, dan rapper DRT yang sejak 2017 bekerja sama dengan Rifofo.

Single ‘Evita’ bercerita tentang kerinduan pada sosok yang bisa menenangkan dan menentramkan, sosok yang tak terlupakan dan selalu dipuja. Diceritakan pula bahwa sosok tersebut tengah terpisah, berjarak jauh dengan yang merindukannya.

Maka yang dapat dilakukan adalah terus berkarya dengan kesabaran menanti, hingga tiba waktunya untuk bertemu kembali dengan si penentram hati.

Dalam single ‘Evita’, Rifofo dan Gandhi bereksplorasi secara aransemen dan dalam mengarahkan secara bahasa untuk lirik—dan juga memasukkan puisi. Musik ‘Evita’ memadukan musik Banyuwangi dengan musik Cina.

“Karena keduanya memiliki kemiripan nada,” ungkap Rifofo.

Perpaduan tersebut juga diberi sentuhan modern dari musik trap, berasal dari bagian selatan Amerika yang kini banyak terdengar sebagai pengiring rap -bagian dari hip hop culture di Amerika-.

Uniknya single ini menggunakan tiga bahasa, yaitu bahasa Rumania untuk puisi, Indonesia untuk rap, dan bahasa Banyuwangi yaitu Osing, untuk nyanyian. Puisi berbahasa Rumania yang dibacakan oleh Radhica, pendatang di Inggris dan sudah lama tidak pulang ke kampung halamannya.

Puisi itu diawali dengan “Mi-e dor de cineva care mă poate înțelege .. (I miss someone who can understand me ..)”

“Kalau rindu itu kamu maka jarak adalah ke mana ‘ku menuju”, awal dari lirik yang puitis dari rap DRT kemudian disambut refrain berbahasa Osing dari Eka,“Durung wayahee, kembang isun teko” (belum waktunya, datang yang dipuja/kupuja).

Barisan kata dan kalimat dari para kolaborator ini pun meneguhkan tema lagu tentang kerinduan yang mendalam, begitu diharapkan (“Sing sun angen-angen”) hingga terngiang-ngiang (‘kantru-kantru’)—dengan kesadaran bahwa perjumpaan dengan seseorang yang dapat mengobati kerinduan itu belum dapat terjadi,  sampai tiba saatnya karena sudah adanya ‘perjanjian’ untuk bertemu kembali (‘semayane’).

Perpaduan musik dan bahasa dari beragam tempat atau negara dalam ‘Evita’ yang menyimbolkan jarak yang berjauhan pun menguatkan tema kerinduan yang -belum dan- pada waktunya akan dilepaskan.

Adapun proses pembuatan single ‘Evita’ berjalan sebelum merebaknya virus corona yang sekarang melanda dunia. Keadaan tersebut turut mempengaruhi waktu perilisan yang sebelumnya direncanakan lebih awal.

Dengan tetap bersemangat untuk berkarya, kiranya sosok penenang yang dinantikan dalam ‘Evita’ yang dirilis saat pandemi ini dapat dimaknai sebagai ketenangan yang dirasakan sebelum pandemi terjadi, bahwa kerinduan akan ketenangan tersebut tengah dirasakan oleh semua. wid

#amiawards #evelyn #evita #gandhishiro #kolaborasi #rifofo

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)