Hadir Sebagai Pasar Tertua di Kotagede, Ini yang Terjadi Pada Saat Pasaran ‘Legi’

115 views

iniSURABAYA.com | YOGYAKARTA – Ibukota provinsi DI Yogyakarta ini memang dikenal pula sebagai ‘Kota Sejarah’.  

Dan salah satu peninggalannya adalah keberadaan pasar tradisional tertua yang masih bertahan sampai saat ini yaitu Pasar Kotagede.

Memang tidak banyak  yang mengetahui bahwa Pasar Kotagede merupakan pasar tertua dibandingkan lainnya yang ada di Yogyakarta. Faktanya, pasar ini didirikan beriringan dengan berdirinya Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16.

Kerajaan ini cikal bakal adanya Kerajaan Mataram yang hingga kini masih ada.

Pasar Kotagede yang kini populer dengan nama ‘Pasar Legi’ Kotagede, bentuk bangunannya masih dipertahankan seperti awal berdirinya.

“Terakhir direnovasi pada tahun 2006 karena terkena gempa. Tapi bentuk bangunannya masih tetap sama,” ujar Budi Sarwono, salah seorang warga Kotagede.

Disebut Pasar Legi, lanjut Budi, karena setiap hari pasaran Legi para pedagang melimpah ruah hingga jalan di luar gedung pasar. “Hanya setiap Legi pedagangnya melimpah sampai luar. Kalau hari biasa hanya pedagang yang ada di dalam gedung pasar,” ujar pemandu wisata khusus Kotagede bagi para turis asing ini.

Pada hari pasaran Legi, sejumlah pedagang yang berada di luar gedung ternyata ada yang menjual barang-barang antik atau pusaka seperti keris atau keris kecil ‘Semar Mesem’.

Dalam sejarahnya diceritakan bahwa keberadaan pasar lebih dahulu ada daripada Kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Kotagede itu. Pasar sebagai pusat ekonomi dianggap jauh lebih penting bagi masyarakat Mataram daripada kerajaan sebagai pusat pemerintahan.

Dikisahkan kala itu Ki Gede Pemanahan mendapat hadiah dari Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya setelah dirinya berhasil menaklukan Arya Penangsang. Pasar dianggap bukan hanya sebagai pusat ekonomi semata. Tapi lebih jauh dari itu pasar adalah tempat interaksi warga sebab segala kegiatan bisa terjadi di pasar.

Pasar juga tempat berkumpul seluruh kalangan dari rakyat jelata hingga mereka yang kaya.

Seperti kerajaan pada umumnya, tata kota atau wilayah ini pada jaman dulu juga telah menganut konsep Catur Gatra Tunggal. Artinya, dalam sebuah pemerintahan itu harus ada empat hal, yakni Kraton sebagai pusat pemerintahan, Alun-alun sebagai tempat berkumpul dan budaya, Masjid sebagai tempat ibadah, dan Pasar sebagai pusat ekonomi.

Dinamakan Pasar Legi karena puncak keramaian ada di hari pasaran legi dalam penanggalan Jawa. Pasaran ini akan terjadi setiap lima hari sekali, selain legi masih ada pasaran paing, pon, wage dan kliwon.

Pasar Kotagede meski hanya pasar tradisional, tapi dari sisi kelengkapan cukup banyak. Pada hari pasaran jumlah pedangang bisa mengalami peningkatan lebih dari 100 persen.

Segala kebutuhan hidup ada disini, mulai dari aneka sayuran, sandang, aksesoris, peralatan keluarga hingga hewan piaraan mulai dari ikan hingga burung.

Di pasar yang dibangun pada awal tahun 1900-an ini ada Babon Anim yang merupakan salah satu landmark Kotagede. Kondisinya saat ini tampak baik karena telah direnovasi.

Disebut ‘babon’ karena dulunya merupakan gardu listrik induk.

Sementara penambahan kata ‘anim’ karena gardu pusat kontrol listrik ini merupakan warisan perusahaan listrik Pemerintah Belanda, NV ANIEM (Algemeen Nederlands Indische Electricitiet Maatschappij). wid

#kotagede #kotasejarah #pasarlegi #yogyakarta

Posting Terkait