Wina Bojonegoro Semangati Penulis Bikin Cerpen Fiksi, Ternyata Tak Semua Lolos

99 views
Wina Bojonegoro kembali berkreasi. Di tengah pandemi, dia bersama 16 penulis lain merilis antologi cerpen ‘Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini’.

iniSURABAYA.com – Tinggal sendirian memang tak menyenangkan. Tetapi itulah situasi yang harus dihadapi ketika pandemi Covid-19 menerpan seluruh penduduk bumi ini.

Sendiri. Tak punya teman. Mau pergi pun dibatasi. “Ini kisahku tentang ‘Malaikat Hujan’,” ungkap Wina Bojonegoro memberi bocoran seputar karya terbarunya yang turut mewarnai kumpulan cerpen ‘Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini’.

Wina tak sendiri tentu. Ada 16 penulis lain yang menyumbang karyanya di buku antologi cerita pendek ini. Buku yang lahir di tengah pandemi ini rilis besok Minggu (22/11/2020).

Berbeda dengan buku ‘Hidup Ini Indah’ (HIB) yang sudah masuk seri ke-5, ini karya fiksi pertama yang dirilis Wina Bojonegoro bersama ‘murid-murid’nya. Proses hingga terwujudnya buku ini pun tak sama.

“Kalau HIB kan berupa kisah nyata. Jadi nggak pakai ‘sekolah’. Peserta langsung kirim naskah lalu proses koreksi, begitu selesai masuk ke percetakan,” papar perempuan asal Bojonegoro ini.

Menurut Wina, yang minat untuk gabung di antologi cerpen ini semula 28 orang. setelah melalui proses kurasi tinggal 16 penulis yang menjalani ‘pendidikan’ lewat WhatsApp (WA).

“Mereka share karya di grup WA, lalu ‘dibantai’ bersama-sama sambil belajar. Di sini juga terjadi proses belajar, bahwa agar piawai menulis setiap orang itu harus rajin membaca,” katanya.

Diakui Wina, proses pembuatan karya berupa esai tidak sesulit ketika seseorang membuat karya fiksi. “Kalau HIB yang berupa esai kan berdasar pengalaman sendiri. Itu akan lebih mudah ketimbang fiksi yang mengandalkan kemampuan berimajinasi,” tuturnya.

Wina juga menekankan, saat menulis karya sastra seseorang harus memperhatikan diksi maupun frasa yang digunakan. “Diksi dan frasa itulah yang lalu dimainkan dalam tulisan. Kalau esai kan semaunya karena berdasar pengalaman,” urainya.

Yang juga berbeda, masih kata Wina, untuk membuat karya fiksi, seseorang perlu melakukan riset. “Misal menulis tentang kehidupan pilot, dia harus mengetahui betul bagaimana kegiatan pilot,” imbuhnya.

Perlu waktu 10 minggu untuk ‘pendidikan’ para penulis cerpen ‘Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini’. Karena proses yang tak mudah itulah banyak peserta tak bisa lanjut dan ‘gugur’ di kelas penulisan cerpen sesi pertama ini hingga akhirnya terjaring 16 penulis.

“Saat ini buku dari kelas cerpen ke-2 masuk proses cetak. Dan batch III sedang berlangsung,” pungkasnya. dit

#antologicerpen #cerpenfiksi #esai #winabojonegoro

Posting Terkait