Embran Nawawi Hadirkan Pohon Natal dari Untaian Batik Pamekasan, Ada Filosofi di Setiap Warna Kain yang Digunakan

448 views
Desainer Embran Nawawi menata lembaran kain batik tulis dari Pamekasan menjadi Pohon Natal yang menjulang setinggi 3,5 meter di lobi Quest Hotel Darmo Surabaya.

iniSURABAYA.com – Kreativitas saja ternyata tak cukup. Perlu ada pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk mewujudkan sebuah gagasan.

Kondisi yang tidak mudah ini pula yang dihadapi desainer Embran Nawawi dan manajemen Quest Hotel Darmo ketika hendak menghadirkan Pohon Natal dari untaian kain batik Pamekasan.

“Sempat ada perdebatan. Karena batik berasal dari kota santri berani nggak ya kita buat. Tetapi, saya putuskan tetap membuat karena saya berasumsi tidak melakukannya untuk misa tetapi hanya untuk perayaan,” begitu ungkap Embran Nawawi yang ditemui usai merangkai Pohon Natal dari batik Pamekasan itu di lobi Quest Hotel Darmo Surabaya, Kamis (3/12/2020).

Tetapi, begitu Pohon Natal tersebut sudah selesai dan fotonya dikirim ke perajin batik, Embran malah dapat respons antusias menggembirakan. “Mereka (perajin batik Pamekasan) senang. Bangga karena batik mereka bisa jadi Pohon Natal,” ujar Embran.

Dari peristiwa tersebut, Embran makin meyakini bahwa batik memang tidak mengacu pada agama tertentu. “Walaupun pembatiknya bisa jadi seorang haji misalnya. Batik adalah karya seni, maka ketika jadi Pohon Natal pun jadi menarik,” tutur Emran yang juga seorang dosen ini.

Meski begitu, Embran mengaku sempat mengalami kendala ketika hendak ‘meminjam’ kain batik tulis Svarnabhumi Pamekasan tersebut. “Wajar, khawatir nanti kainnya rusak dan tidak bisa dijual lagi oleh perajinnya,” cetus Embran.

Karena itu, saat merangkai 51 kain batik Pamekasan tersebut Embran sama sekali tidak merusak satu pun kain yang dia gunakan untuk Pohon Natal. “Karena saya pinjam dengan berat hati maka saya tidak menyia-nyiakan kepercayaan itu. Kain batik ini tetap utuh,” tandasnya.

Baca Juga : http://inisurabaya.com/2020/12/rangkai-kain-batik-pamekasan-jadi-pohon-natal-embran-nawawi-momen-paling-sulit-adalah-pasang-bintang/

Ditekankan Embran, kain yang melilit ke kerangka Pohon Natal itu sama sekali tidak ada yang digunting. “Jadi kalau nanti setelah acara Natal, kain ini ada yang mau beli silakan, saya obral Rp 100.000 per-pieces. Jadi kreativitas ini juga dalam rangka membantu penjualan batik, sehingga perajin ikut menikmati,” kata Embran.

Sarjana Master di Bidang Kriya Tekstil Pascasarjana Institut Seni Indonesia ini kemudian mengurai filosofi warna-warna kain batik yang digunakan pada Pohon Natal tersebut. “Di bagian paling bawah saya gunakan batik yang dominan warna biru. Ini warna dasar kedamaian. Tanpa batasan apa pun kedamaian itu ada di paling dasar,” tandasnya.  

Juga ada warna merah sebagai simbol keberuntungan. Sedang warna hijau identik dengan kesegaran. Di lini berikutnya adalah batik warna putih sebagai simbol kesucian.

“Semua dirangkai dengan filosofi yang kuat bahwa tujuannya bertemu Tuhan yang satu. Apapun agamanya Tuhan kita tetap satu,” bebernya.

Embran berharap dari simbol-simbol warna tersebut, seluruh penduduk di negeri ini, terutama warga Kota Surabaya bisa menutup tahun dengan kemakmuran dan kedamaian.

“Makanya mari bersujud pada yang di Atas semoga diberi kesehatan sepanjang pandemi ini, sehingga kita masih bisa bersama tahun depan,” imbuhnya.

Sementara Melly Aruni, Public Relation Officer Quest Hotel Darmo Surabaya menyatakan bahwa di setiap perayaan Natal, hotel bintang 3 di pusat kota Surabaya itu selalu berusaha membuat sesuatu yang menarik bagi tamunya.

“Tahun lalu kami membuat Pohon Natal dari daun buah nanas. Sebagai salah satu hotel dalam naungan Archipelago yang berarti Nusantara, kami ingin memberikan sentuhan kebudayaan Indonesia dalam perayaan Natal tahun ini,” ujarnya. dit

#embrannawawi #pohonnatal #questhoteldarmo

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)