Eri Cahyadi Ajak Pegawai Pemkot Surabaya Jadi Orang Tua Asuh, Gaji Dipotong Rp 125.000/Bulan Agar Anak MBR Tidak Putus Sekolah

428 views
Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya tak ingin ada anak di Kota Surabaya putus sekolah akibat orangtuanya terdampak pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

iniSURABAYA.com – Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya mengajak jajaran pegawai di Pemkot Surabaya untuk ikut berpartisipasi dalam program beasiswa pendidikan. Keinginan tersebut disampaikan lantaran Eri tidak ingin ada anak Surabaya yang putus sekolah akibat pandemi Covid-19.

Pasalnya, pandemi yang hingga kini belum juga hilang dari negeri ini berpengaruh besar pada perekonomian masyarakat, khususnya warga Kota Surabaya.

Karena itu, Cak Eri –sapaan akrab Eri Cahyadi, pegawai di lingkungan Pemkot Surabaya diharapkan aktif jadi orang tua asuh bagi anak-anak yang keluarganya tidak mampu atau termasuk dalam Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Imbauan tersebut secara resmi dituangkan dalam surat bernomor 421/4075/436.7.1/2021. Dalam surat tersebut Eri menyatakan keadaan pandemi yang berlangsung cukup lama menyebabkan semakin banyak warga kehilangan pekerjaan ataupun pendapatannya berkurang.

“Bila pemerintah tidak segera hadir dalam keadaan ini, akan berpengaruh pada bidang pendidikan. Akibatnya, anak–anak kesulitan mengenyam pendidikan dikarenakan tidak adanya biaya,” tulis Eri dalam surat resmi tersebut.

Karena itu, Eri mengajak pegawai di jajaran Pemkot Surabaya untuk turut hadir dalam menangani permasalahan kota tercinta, terutama masalah pendidikan sebagai orang tua asuh dengan menyalurkan rezeki pada Program Beasiswa Pendidikan.

Cak Eri menekankan, program itu akan diperuntukkan kepada warga Kota Surabaya dari keluarga tidak mampu/Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) pada jenjang SMP Swasta.

“Asumsinya masing–masing anak sebesar Rp 125.000 perbulan selama tiga tahun atau sampai lulus. Jika bersedia untuk berpartisipasi, silakan mengisi form kesediaan pada link: http://bit.ly/partisipasi-program-beasiswa-pendidikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Supomo, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya memastikan surat imbauan itu sudah dikirim ke semua jajaran di lingkungan Pemkot Surabaya. Bahkan, pemkot juga melakukan rapat koordinasi untuk mensukseskan acara ini.

Supomo memastikan bahwa orang tua asuh ini berbeda dengan program orang tua asuh yang sudah ada sebelumnya. Kali ini, dikhususkan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga MBR, sedangkan program yang sebelumnya, dikhususkan bagi anak-anak eks lokalisasi.

“Jadi, sasarannya berbeda dengan program sebelumnya,” tegasnya.

Supomo mengakui, program tersebut sesuai visi-misi Wali Kota Surabaya yang ingin adanya gotong royong dan ada harmonisasi hidup di Kota Surabaya. Sehingga, yang mampu membantu yang lemah, lalu yang lebih membantu yang kurang, dan yang kuat membantu yang lemah.

“Dengan cara ini, akan tercipta gotong royong diantara warga, sehingga terjadi harmonisasi di tengah-tengah warga. Dan yang paling penting, tujuannya untuk mencegah anak-anak putus sekolah. Semua anak Surabaya harus sekolah,” cetusnya.

Supomo menambahkan, ketika ada pegawai yang bersedia berpartisipasi, maka pegawai tersebut harus membuat pernyataan bahwa bersedia dipotong gajinya untuk program ini.

Selanjutnya, gaji pegawai itu akan dipotong Rp 125.000 selama tiga tahun atau sampai lulus anak tersebut. Uang itu kemudian akan dikirim langsung ke kas sekolah untuk melunasi biaya sekolah anak MBR.  

“Anak MBR maupun Dispendik tidak memegang uang itu, karena langsung masuk ke sekolah. Itu lebih aman dan tepat sasaran,” paparnya. ana

#beasiswa #ericahyadi #masyarakatberpenghasilanrendah #walikotasurabaya

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)