Pemkot Surabaya Tegaskan Larangan Kegiatan Bukber, Irvan: Kalau Sudah Asyik Ngobrol Maskernya Lupa Dipakai Lagi

1183 views
ILUSTRASI: Masker harus dipakai setiap saat ke luar rumah, khususnya saat berada di tempat umum. (foto: IST)

iniSURABAYA.com – Setelah sempat membebaskan masyarakat untuk melakukan buka bersama (bukber) di tempat umum, kini Pemkot Surabaya melarang kegiatan yang jamak dilakukan di tengah puasa Ramadan tersebut.

Irvan Widyanto, Wakil Sekretaris Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemkot Surabaya menegaskan, larangan itu kembali diterapkan lantaran pihaknya melihat banyak masyarakat abai terhadap protokol kesehatan (prokes).

Irvan mengingatkan, virus korona belum sepenuhnya hilang meskipun telah banyak warga Surabaya yang mendapatkan vaksinasi. “Penyakit ini juga belum memiliki obat. Satu-satunya cara agar terhindar dari Covid-19 yaitu disiplin,” begitu tandasnya.

Irvan menekankan pula, prokes wajib dijalankan meski saat bukber. Salah satunya mengenakan masker. Pasalnya, virus korona bisa menyerang ketika ada kontak fisik.

Irvan menilai warga yang melakukan bukber terkadang lupa bahkan abai dengan prokes. Contohnya saat awal datang pengunjung memang mengenakan masker.

“Tapi selepas santap bersama, masker itu tidak lagi digunakan. Kalau sudah asyik ngobrol, maskernya lupa dipakai lagi. Kebanyakan pengunjung juga banyak yang tidak menjaga jarak,” paparnya.

Selain tidak mengenakan masker, penyebab lain adalah durasi. Saat bukber, warga kerap lupa waktu. Terlebih, bila kegiatan itu dilakukan di tempat tertutup atau closed room dengan pendingin udara.

Faktor lainnya, yakni tidak adanya pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Misalnya, ketika bukber di rumah, warga yang sakit tetap memaksa datang.

Ketika bukber di restoran, petugas tidak memeriksa suhu tubuh. “Untuk membendung klaster bukber itu, pemerintah sudah mengeluarkan aturan,” cetusnya.

Irvan lalu menunjuk Surat edaran (SE) menteri dalam negeri (Mendagri) nomor 800/2794/SJ yang mengatur pembatasan buka puasa. Juga larangan open house atau halalbihalal.

Ada dua poin yang tertuang. Pertama, membatasi peserta bukber. Kegiatan santap bersama itu bisa tetap berjalan asal memenuhi persyaratan seperti saat bukber, jumlah yang ikut tidak melebihi jumlah keluarga inti ditambah lima orang.

Irvan mencontohkan, satu keluarga hendak menggelar bukber. Jika jumlah keluarga inti empat orang, maka undangan bukber maksimal 10 orang.

Selain itu, halalbihalal dilarang dengan tujuan mencegah kerumunan. “Aturan tersebut berlaku bagi seluruh pejabat dan ASN,” ucap Irvan.

Sementara itu, menjelang Lebaran Pemkot terus meningkatkan kewaspadaan. Terutama di sejumlah tempat umum untuk mencegah timbulnya kerumunan.

Salah satu tempat yang dipelototi adalah mall. Pusat perbelanjaan itu diprediksi ramai menjelang hari libur Lebaran, lantaran warga menjalankan tradisi setiap tahun yakni berbelanja baju Lebaran.

Sementara Eddy Christijanto Kasatpol PP mengatakan, pihaknya terus meningkatkan kewaspadaan di mall. Untuk itu petugas Satpol PP dan linmas disebar.

Pengawasan itu tidak hanya melibatkan petugas. Pemkot juga meminta lurah dan camat turun. Satgas mandiri pun diminta turun tangan. “Kalau ada kerumunan, kegiatan langsung dihentikan,” tegasnya.

Eddy menuturkan, Pemkot sudah membuat aturan terkait gerai dan toko harus membatasi pengunjung dengan batas maksimal 50 persen, mengatur pintu keluar masuk pengunjung, dan juga menyediakan informasi jumlah pengunjung.

Langkah lain dilakukan untuk mengurangi kerumunan. Eddy berharap warga berbelanja lewat daring. “Lebih mudah. Tidak perlu antre,” kata Eddy. ana

#bukabersama #pakaimasker #pemkotsurabaya

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)