OPPA Bagikan 200 Paket APD untuk Pengelola Sampah, Suhartono: Pendapatan Turun dari Rp 200.000 Jadi Rp 100.000 Tiap Kali Setor

379 views

iniSURABAYA.com – Sampah di negeri ini terus meningkat. Bahkan ketika masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan di rumah selama pandemi.   

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut sepanjang tahun 2020, total produksi sampah nasional menembus angka 67,8 juta ton, atau meningkat sekitar tiga juta ton dari tahun 2018.

Artinya, hampir 185.753 ton sampah setiap harinya dihasilkan oleh 270 juta penduduk Indonesia. Melihat peningkatan tersebut tentu peran pekerja pengelola sampah amat krusial.

Guna mengapresiasi kontribusi para pekerja pengelola sampah, program yang bergerak di bidang pembangun ekosistem inovasi sosial, Ocean Plastic Prevention Accelerator (OPPA) berkolaborasi dengan Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS) menggelar ‘Peduli Pahlawan Lingkungan’.

Aksi bakti sosial ini membagikan 200 paket alat pelindung diri (APD) pemilahan sampah dan sembako kepada pekerja sektor sampah pada 10 Mei lalu. Even dihadiri pemulung, nasabah dan pegawai BSIS.

Aksi sosial ‘Peduli Pahlawan Lingkungan’ ini diharap mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan, keselamatan kerja dan peningkatan kesejahteraan pekerja pengelola sampah.

Anjar Putro (31) selaku ketua Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS) menuturkan, pekerjaan pengelolaan sampah masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat di lingkungannya.

“Harapannya semoga ada banyak lagi pihak yang mau bersinergi untuk berkontribusi terhadap program serupa, khususnya dari pemerintah terkait,” kata Anjar.

Pengelolaan sampah di Indonesia dan di seluruh dunia mayoritas dijalankan oleh pekerja informal. Berdasarkan data International Labor Organization (ILO), hanya sekitar 4 juta dari total 9-14 juta pekerja di sektor pengelolaan sampah di seluruh dunia terhitung formal.

Artinya, mayoritas pekerja sektor informal dalam kesehariannya berinteraksi dengan sampah tak memakai perlengkapan pengaman memadai sehingga risiko terinfeksi material asing dan kecelakaan kerja sangat tinggi. Belum lagi kemungkinan tertular Covid-19.

Dari perspektif proses kerja, pekerja sektor sampah rawan dicurangi karena kurangnya transparansi di dalam rantai pasokan. Hal ini membuat praktik kerja etis menjadi sulit diukur.

Terlebih pendapatan pekerja pengelola sampah termasuk dalam kelompok ekonomi rentan. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) Juni 2020, sebanyak 70,53 persen responden masyarakat dengan upah di bawah Rp 1,8 juta per-bulan mengaku mengalami penurunan pendapatan sejak Covid-19 melanda.

Seperti dialami Suhartono (46), salah satu pekerja sektor sampah di Surabaya yang mengeluhkan pendapatan hariannya berkurang sejak pandemi. “Sebelum ada Corona, dapatnya Rp 200.000 tiap kali setor. Sekarang ini nggak tentu, kadang Rp 100.000 kadang Rp 120.000.”

Secara bersamaan, pekerja sektor sampah juga rawan kehilangan pekerjaan. Seperti dialami pekerja salah satu BSIS, Yuda (37) yang sempat dirumahkan sementara waktu.

Beberapa fasilitas pengolahan sampah memilih menunda operasinya selama pandemi untuk mengurangi penyebaran virus dari material asing atau omset turun drastis akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Perlunya Kolaborasi
Maka dari itu OPPA-SecondMuse, yang didukung The Incubation Network (TIN), The Circulate Initiative (TCI), Global Affairs Canada (GAC), Alliance to End Plastic Waste (AEPW), dan beberapa organisasi lain, mencoba mencari solusi inovatif untuk mengatasi tantangan dalam sistem pengelolaan sampah lokal dan sektor daur ulang melalui kegiatan kolaboratif.

“Sektor informal juga menjadi perhatian besar bagi OPPA, sehingga kami dengan semangat mendukung aksi sosial Peduli Pahlawan Lingkungan yang dijalankan oleh BSIS di Kota Surabaya,” imbuh Duala Okto, Project Manager OPPA.

Salah satu penerima bantuan, Agus Winarto (46) menyampaikan aksi sosial ini menandai bahwa pekerja sektor sampah mulai diperhitungkan. “Insyaallah ke depannya kami lebih bersemangat dan bisa memberikan kontribusi lebih,” lanjut Agus yang juga ketua Bank Sampah Songolikoer Surabaya.

Saat ini, ada sekitar 3,7 juta pemulung di Indonesia, menurut data Ikatan Pemulung Indonesia (2019) yang mengandalkan pendapatan hariannya dari sampah. Angka ini belum termasuk pekerja lain di sektor serupa.

Terlebih lagi, pekerja sektor informal bertanggung jawab terhadap pengumpulan sampah plastik untuk kebutuhan daur ulang di Indonesia, berdasarkan National Plastic Action Partnership.

Sebagai aktor kunci dalam sistem manajemen sampah yang lebih baik, kesejahteraan pekerja informal harus menjadi perhatian kita semua. Selain aksi bakti sosial bersama Bank Sampah Induk Surabaya, OPPA juga berkolaborasi dengan National Plastic Action Partnership (NPAP) dan the World Economic Forum menjalankan program ‘Informal Plastic Collection Innovation Challenge’ (cutt.ly/IPC-Innovation-Challenge-2021).

Program ini ingin mencari solusi atas tiga tantangan penanganan sampah sektor informal di Indonesia, yaitu menciptakan rantai pasokan yang lebih baik, meningkatkan literasi digital bagi pekerja sektor informal dan visibilitas yang lebih baik bagi pekerja sektor sampah di mata masyarakat. ana

#banksampahinduksurabaya #oceanplasticpreventionaccelerator #pengelolasampah

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)