Agar Isoman Tetap Aman dan Nyaman, Perhatikan 4 Aspek Penting Ini

351 views

IniSURABAYA.com – Meningkatnya jumlah pasien positif Covid-19 membuat ruang isolasi di banyak rumah sakit penuh. Alhasil tak sedikit pasien yang melakukan isolasi mandiri di tempat tinggal mereka.

Isolasi mandiri atau isoman dilakukan selama 7-10 hari untuk mereka yang tidak bergejala. Serta 14 hari bagi yang bergejala ringan, dengan catatan tiga hari terakhir sudah tidak ada gejala yang muncul.

Menurut dr Arief Bakhtiar SpP, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), setidaknya ada empat hal yang semestinya dipenuhi selama isolasi mandiri atau isoman:    

Informasi yang dikutip dari tim Unair News, Arief menekankan pentingnya evaluasi selama menjalani isoman. Evaluasi dapat dilakukan dengan memantau suhu badan. Serta rutin mengukur saturasi oksigen pada pasien.

“Jika dalam 2-3 hari ke depan gejalanya semakin memburuk, ya isolasi mandirinya jangan dilanjutkan. Segera ke rumah sakit,” tandas Arief, Selasa (12/7/2021).

Arief mengingatkan pula agar tempat tinggal atau rumah dalam kondisi mumpuni selama isoman. Setidaknya ada kamar tersendiri bagi pasien isoman. “Lebih baik lagi jika ada dua kamar mandi, sehingga salah satunya dapat digunakan khusus bagi pasien yang sakit,” tuturnya.

Selain itu, kata Arief, idealnya ruang isoman memiliki ventilasi yang baik seperti jendela. Sedangkan ruangan tertutup ber-AC akan semakin menambah konsentrasi virus di udara.

Terapkan Protokol Kesehatan
Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) itu menyatakan pula, selama masa isoman semua anggota rumah wajib menjalankan prokes dengan ketat.

“Termasuk selalu memakai masker,” tegasnya. Selain masker, disinfeksi juga perlu dilakukan pada tempat-tempat yang sering disentuh, seperti pintu, pagar, dan meja.

Untuk makanan, lanjut Arief, lebih baik diantar. Dia juga menyarankan untuk menggunakan alat makan sekali pakai.

Jika pasien isoman adalah orang tua, tutur Arief, kemungkinan perlu perawatan dari orang lain. Karena itu Arief menyarankan agar yang merawat adalah orang yang betul-betul sehat.

“Karena si perawat ini sudah termasuk dalam orang-orang yang kontak berat, maka harus menjalani proses isolasi juga,” pesannya.

Kontak Fasilitas Medis
Terakhir, sebelum isoman, pastikan pasien atau keluarga memiliki kontak dengan tenaga medis atau fasilitas kesehatan. Tujuannya, jika sewaktu-waktu keadaan pasien memburuk, dapat melakukan konsultasi dengan pihak medis.

Di sisi lain, Arief mengatakan, isoman bukan berarti benar-benar terisolasi. Tatap muka dengan anggota keluarga masih bisa dilakukan. Namun, jaraknya harus tetap berjauhan tidak kurang dari dua meter.

“Penting untuk disadari agar tidak memaksakan isoman. Jika ada perburukan, ya sudah, harus ke rumah sakit atau usahakan ada pertolongan dari pihak medis,” paparnya. ana/dbs

#ariefbakhtiar #isolasimandiri #pasien #unair

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)