Usahawan Mikro Kini Bisa Akses Pendanaan P2P Lending Lewat Qasir, Begini Caranya

288 views
ILUSTRASI : Aplikasi Qasir

iniSURABAYA.com | JAKARTA – Dukungan permodalan bagi UMKM makin gencar diupayakan oleh pemerintah di tengah pandemi. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa kredit UMKM di Juni 2021 tumbuh 1,9 persen yoy menjadi Rp 1.035,2 triliun lebih baik pada Mei 2021 yang tumbuh 0,5 persen yoy menjadi Rp 1.024,4 triliun. 

Selanjutnya, BI turut berencana meningkatkan penyaluran kredit ke UMKM dari 20 persen menjadi 30 persen dari total portofolio kredit. Regulator akan memberikan relaksasi dengan membuka kerja sama dengan pelaku fintech ataupun pembiayaan lain seperti pegadaian untuk semakin meningkatkan dukungan permodalan bagi UMKM.

Merespons upaya pemerintah dukung permodalan bagi UMKM, salah satu startup Point of Sales (POS) asli Indonesia, Qasir, kini jajaki kerja sama dengan KoinWorks dan sejumlah perusahaan fintech lainnya guna memberikan alternatif pembiayaan modal usaha kepada para usahawan di ekosistem miliknya.

Hal ini dirasa perlu sebab masih banyak usahawan mikro yang belum terinformasi akan opsi pendanaan dari Peer to Peer (P2P) Lending, termasuk mekanisme pengajuan dan lainnya.

Adapun, mekanisme pemberian bantuan permodalan yang digunakan adalah PO financing, atau invoice financing. Dengan sistem ini merchant dapat mendaftarkan usahanya, proyek yang sedang dikerjakan, dan menyertakan bukti PO/invoice yang harus dibayarkan.

Menurut Ivan Hadwin Rarumangkay, CEO Office Qasir, langkah ini dibuat sesederhana mungkin karena pihaknya memahami kesulitan usahawan mikro tidak hanya terletak dari administratif, tapi juga tantangan secara literasi digital.

“Kami tidak ingin mempersulit merchant-merchant mikro dengan proses kompleks. Melalui pengajuan via Qasir, tim kami akan kelola data merchant dan mengolahnya secara terintegrasi. Hasilnya, data transaksi merchant akan jadi acuan KoinWorks untuk menetapkan plafon maksimal pembiayaan dana,” tutur Ivan.

Selaku pengusul proyek, Ivan juga menyebut bahwa pengajuan melalui Qasir setidaknya memangkas tahapan administratif cukup signifikan, dibanding melakukan pengajuan secara terpisah.

“Apalagi jika usahawan belum familiar dengan konsep P2P Lending. Memilih platform saja sudah makan waktu, belum lagi pemahaman cara kerjanya,” tegasnya.

Ivan menyadari, perlu ada penengah agar setiap usahawan punya kesempatan yang sama untuk mendapat modal usaha. “Setidaknya, melalui analisis sampling dari kami, rekap transaksi bulanan merchant akan kami olah secara otomatis dan secara angka, akan jadi bukti kemampuan finansial  usahawan,” paparnya.

Ivan menyatakan, jika diilustrasikan, proses yang biasanya butuh 10 tahap, kini bisa menyusut sampai 5 tahap saja. Proses menjadi lebih sederhana lagi jika merchant memanfaatkan fasilitas pembayaran digital QRIS–yang ada di aplikasi Qasir–pada setiap transaksinya.

Dengan menggunakan transaksi digital, secara otomatis transaksi tersebut tervalidasi sebagai transaksi yang real. Dengan begitu, kesempatan merchant untuk mendapatkan pembiayaan pun semakin besar.

Saat ini, pengajuan pembiayaan dana ke P2P lending melalui Qasir masih berupa pilot project. Ivan menyebut sosialisasi tahap awal dibuka ke 350 merchant. “Kami seleksi dulu merchant yang punya kapasitas finansial baik, selanjutnya kami buka untuk 8.000 merchant dengan konsentrasi awal di Pulau Jawa,” ungkarnya. wid

#qasir #startup #umkm

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)