Embran Nawawi Dampingi 4 Desainer Muda Unjuk Karya di Panggung Gebyar Batik Pamekasan

324 views

iniSURABAYA.com – Empat desainer muda Pamekasan bakal menggelar karya di panggung fashion show ‘Gebyar Batik Pamekasan’ yang digelar di Banyuwangi pada 6 November 2021.

Keempat desainer tersebut adalah Bagus Dwi Prasetyo, Herdy Seset, Lutfi Bimantara, dan Pepeng Brianto. Peragaan busana ini menjadi bagian dari agenda kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari (5-6 November 2021).

Perjalanan menuju panggung ‘Gebyar Batik Pamekasan’ ini diakui tidak mudah. Namun, berkat bimbingan desainer senior Embran Nawawi, mereka akhirnya berhasil menuntaskan karya-karya yang diharap bisa menarik perhatian penikmat fashion, khususnya di kalangan muda.

“Yang mereka buat tak hanya sebuah pakaian batik formal. Melainkan berhasil mengemasnya jadi produk fashion yang mampu mengikuti zaman,” ungkap Embran saat ditemui di Royal Tulip Darmo Surabaya, Jumat (29/10/2021).

Menurut Embran, ‘Gebyar Batik Pamekasan’ (GBP) diharapkan mampu mengenalkan produk-produk turunan batik, khususnya batik Pamekasan sehingga lebih dikenal dan makin dicintai semua kalangan.

“Gebyar Batik Pamekasan merupakan tema besar memperkenalkan batik tulis Pamekasan di luar Pamekasan sesuai misi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pamekasan,” ungkapnya.

Di momen spesial itu, desainer Herdy Seset yang mengusung tema Mumubu (Muslimah Muda Berbudaya) menampilkan busana casual ready to wear yang cocok dipakai anak muda.

Dengan mengkombinasikan salur putih navy dan batik yang menggunakan pola dasar baju tradisional Jepang seperti pola setali yang bagian bahunya dipotong lurus berbentuk T.

Ada juga pola kimono dengan lengan saku ala Jepang yang lebar, termasuk gaya celana berlipat-lipat, celana gombrong, serta tak lupa obi atau sabuk besar yang dikreasikan dengan kaidah gaya muslimah yaitu tidak menunjukkan lekuk tubuh.

Herdy menggunakan batik khas dari daerah Bâdung Pamekasaan. Daerah ini adalah penghasil batik gaya klasik Pamekasan yang sangat khas dengan warna sogan matraman coklat,dan biru indigo.

Dengan tehnik batik ghurik atau proses dua kali pelorotan malam. Motif klasik yang digunakan adalah bhungka’an tabing, bhungka’an kabung, kabung krenneng, ghepper polèng, mano’ sajhudhu.

Sedang desainer Bagoes menampilkan karya bertema Husna, yang diambil dari bahasa Arab yang mempunyai arti baik. Dari nama Husna, Bagoes berharap koleksi kali ini bisa menjadi awal yang baik untuk batik Pamekasan dan bisa dijadikan tren fashion muslim di Indonesia.

“Inspirasi busana yang saya buat adalah ibu saya sendiri yang memiliki nama Husna yang sangat suka dengan busana yang sederhana tapi tetap dengan tampilan yang mewah dan elegan,” beber Bagoes.

Kombinasi batik dengan bahan polos berwarna navy dan gold dengan potongan atasan dan bawahan menjadi model busana Husna. Potongan celana palazzo batik dipadukan dengan atasan berbahan polos berwarna navy dengan lengan terompet dan aksen kuning emas di bagian perut serta taburan payet di bagian leher.

Beberapa juga dengan potongan rok mermaid dan dipadukan atasan batik dengan potongan asimetris di bagian bawah dan ada aksen ruffle di bagian dada untuk menutup bagian yang tidak boleh ditonjolkan dengan potongan lengan balon.

Semua koleksi dilengkapi garis berwana gold di bagian perut dan taburan payet di bagian leher dan bagian tertentu untuk menambah kesana mewah pada koleksi busana muslim kali ini.

“Semua busana dibuat dengan pola simpel, tampilan yang mewah dan tetap dengan gaya berpakaian layaknya wanita muslimah,” urainya.

Untuk bahannya, Bagoes menggunakan batik dari Dusun Podhe’, Desa Proppo, Pamekasan dengan motif terang bulan dan kembang tegghel dengan ciri khas sekar jagad kotak, car pacar dan anggur ghuri’.

Desainer Lutfianto menyajikan karya bertema Pemakesana Sunrise. “Semangatnya adalah pagi yang cerah, keluarnya matahari yang begitu indah,” tegasnya.

Gaya busana kasual ala Korea yang ditampilkan Lutfi cocok digunakan anak muda kekinian. Dengan mengkombinasikan bahan polos warna biru, kuning dan batik menjadikannya busana kasual Korea.

Potongan baju longgar dengan potongan lengan melebar, serta potongan kain yang memanjang ke bawah dan celana longgar.

“Saya gunakan salah satu batik dari daerah Toket Pamekasan yang mempunyai ciri khas tersendiri yaitu terlihat dari motif dan pewarnaan yang mengunakan pelorotan beberapa kali,” imbuhnya.

Sementara desainer Pepeng Brianto yang mengangkat tema Up To Date di ajang gebyar Batik Pamekasan 2021 berharap karyanya dapat diterima masyarakat luas dan dijadikan tren di dunia fashion.

Bentuk busana yang ditampilkan berupa casual wear dengan tampilan sederhana dan senyaman mungkin tetapi tetap terlihat trendi dan up to date.

“Desain saya ini menggunakan batik Klampar dengan kombinasi bahan katun frans polos. Pada busana ini saya menggunakan detil cutting pada bagian badan depan yang terkesan seperti robekan-robekan yang menjadikan busana ini terlihat lebih trendi dan tidak menoton walaupun saya memasukan unsur batik,” tuturnya.

Embran Nawawi menambahkan, tema besar kegiatan ‘jemput bola’ di Banyuwangi nanti mengangkat tema Lir Sa Alir yang diambil dari judul lagu daerah Pamekasan yang bermakna generasi muda yang terbuka saling support dan selalu ingin menjadi yang terbaik.

Dalam kegiatan ini, Embran sendiri menyajikan karya bertema Neo Mekasan, yaitu konsep yang menjadi ajang ekspresi generasi baru dari remaja era smartphone berpadu dengan budaya dan religi.

Dengan model busana Bout going modern dan street styling fashion untuk generasi muda modern dengan batik modern. Bentuk busana yang mengacu pada model besik tunik, celana jogger, pencil, blouse setali, outer panjang dan jaket yang memadukan kain batik kontemporer monokromatik, kain transparan, dan kain berwarna neon sebagai penegas.

“Saya pakai batik monokrom bermotif kontemporer yang menyimbolkan kebebasan. Batik ini tidak menonjolkan gender, genre dan market fashion modern,” tandasnya. ap

#banyuwangi #embrannawawi #gebyarbatikpamekasan

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)