Perjuangan Didik-Titin Dapatkan Anak ke-2 Lewat Program Bayi Tabung, Rumah Hancur Akibat Badai La Nina dan Beberapa Kali Jalani Operasi

162 views
Didik Santoso (kiri) didampingi Prof Dr dr Budi Santoso SpOG(K) saat memperlihatkan foto sang buah hati yang lahir melalui program bayi tabung di RSIA Kendangsari Surabaya.

iniSURABAYA.com – Meski sudah memiliki seorang anak, pasangan Didik Santoso (43) dan Titin (35) masih berkeinginan menambah momongan. Apalagi ketika sang istri mengalami keguguran saat anak pertama usia tiga tahun.

“Saya terinspirasi BJ Habibie (mantan Presiden RI). Jika anak-anak sudah besar, ada yang kuliah. Ketika yang besar sudah kuliah atau menikah, di rumah nggak sepi karena ada adiknya,” kata Didik kepada iniSurabaya.com, Kamis (25/11/2021).

Selain itu, Didik meyakini memiliki banyak anak tentu akan banyak yang mendoakan. “Setidaknya saat hari tua, kami nggak cuma punya satu anak,” tegasnya saat ditemui di RSIA Kendangsari Surabaya.

Siang itu, Didik bersama Titin menyampaikan kabar gembira atas kelahiran anak kedua yang diperoleh melalui program bayi tabung. “Kami bersyukur. Setelah 11 tahun menanti, akhirnya bisa dapat anak lagi,” tuturnya.

Didik mengaku sangat tidak mudah untuk mendapatkan sang buah hati kali ini. Banyak cobaan yang dialami sejak awal menjalani pemeriksaan hingga akhirnya anak kedua ini lahir.

Anak kedua yang lahir prematur dengan berat 1,75 kg itu bahkan masih menjalani perawatan di NICU RSIA Kendangsari. “Penuh perjuangan. Butuh pengorbanan, waktu dan juga material,” imbuh pria asal Banyuwangi yang kini mukim di NTT ini.  

Didik menyatakan, proses memperoleh anak lewat program bayi tabung itu berawal dari kedatangannya di Surabaya tahun 2020 dan konsultasi ke RSIA Kendangsari. Dari hasil pemeriksaan awal diketahui bahwa Titin tidak bisa mendapatkan anak lewat proses normal. Dari hasil pemeriksaan dokter RSIA Kendangsari diketahui ada faktor penghambat di alat reproduksi Titin.

“Ada perekatan di usus dan rahim sehingga harus melalui proses bayi tabung karena istri saya tidak bisa hamil normal,” ungkapnya.

Saat awal program, lanjut Didik, musibah besar menimpa dirinya. “Ada badai La Nina yang menyebabkan banjir bandang di NTT. Tembok-tembok ambruk dan barang rusak,” kisahnya.

Didik tak menepis butuh waktu bagi dirinya dan Titin untuk menguatkan iman atas cobaan tersebut. “Intinya adalah ikhlaskan, dan kami tetap berkeyakinan pada Allah. Kami tetap pada komitmen menjalankan program (bayi tabung) ini,” tegasnya.

Kabar gembira pun mereka dapat. Tiga sel telur yang diperoleh dari Titin dan dua diantaranya ditanam untuk dibuahi, Titin dinyatakan hamil pada akhir April 2021.

Yang membuat pasangan ini makin bahagia adalah bakal mendapat anak kembar.

Ternyata ujian belum berakhir. Di usia kehamilan 8-9 minggu meninggal, salah satu dari bayi kembar ini meninggal dalam rahim.  

Cobaan kembali datang ketika usia kehamilan menginjak 20-21 minggu. Titin mengalami kembung, mual, dan bahkan muntah.

Kondisi ini membuat Titin harus menjalani perawatan dokter bedah di rumah sakit lain, karena berkaitan dengan saluran pencernaan. Dan ternyata ususnya harus dipotong untuk kemudian disambung lagi.

“Rasanya campur aduk. Sedih tetapi harus tetap bertindak untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Meski berisiko, saya optimistis operasi lancar,” bebernya.  

Belum sembuh dari duka kehilangan salah satu bayi, dan operasi illius obstruktif, pasangan suami istri tersebut dihadapkan lagi dengan kenyataan pahit. Memasuki usia kehamilan sang istri di 33-34 minggu, air ketuban pecah dan habis.

Maka dokter RSIA Kendangsari pun melakuan upaya penyelamatan pada bayi mungil tersebut. Dan ternyata cobaan kembali terjadi.

“Saat operasi kami menyadari adanya perekatan ari-ari dengan rahim. Setelah mencari sumber permasalahan, kami temukan ada perobekan di bagian bawah rahim yang melekat dengan usus. Kami bersyukur bisa menangani sehingga bayi bisa lahir meski prematur,” ujar Prof Dr dr Budi Santoso SpOG(K) yang menangani program bayi tabung pasangan Didik-Titin ini.

Prof Bus –sapaan Prof Dr dr Budi Santoso SpOG(K) menyatakan, proses operasi yang dimulai sekitar pukul 09.00 itu baru tuntas pada pukul 13.00. Kondisi yang dialami Titin ini membuatnya harus ditopang tranfusi empat kantung darah.

Dokter Rulik Rufianti SpA yang mendampingi Prof Bus menambahkan, kondisi bayi terus menunjukkan perkembangan positif. Saat ini yang sedang dilakukan adalah membiasakan sang ibu memberikan ASI-nya.

“Hanya ASI yang terbaik buat anaknya. Meski setetes dua tetes tetap harus diberikan agar kekebalan tubuh sang bayi terbentuk,” ujarnya.

Perempuan yang akrab disapa Ruli ini tak menepis, rasa khawatir dan cemas bisa mempengaruhi produksi ASI seorang ibu. “Tetapi saya yakin karena didampingi suami ‘siaga’, bu Titin akan tetap sehat dan siap memberikan ASI-nya,” cetus Ruli. ap

#bayitabung #NTT #ProfDrdrBudiSantosoSpOGK #RSIAKendangsari

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)