Pelukis Ida Fitria Hadirkan Bunga dan Serigala Sebagai Simbol Keselarasan Hidup

Melukis bersama di area kolam renang Hotel Fairfield Surabaya menandai pameran lukisan yang disajikan di lobi hotel tersebut.

iniSURABAYA – Sebanyak 17 pelukis dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Tulungagung, dan Bali bersatu dalam sebuah pameran yang digeber selama sebulan. Sekitar 30 karya lukis yang berada di berbagai sudut ruangan lobi Hotel Fairfield by Marriott Surabaya itu dipajang mulai Sabtu (26/5/2018).

Prosesi pembukaan pameran lukisan itu ditandai dengan gelar melukis bersama yang dilakukan para pelukis di area kolam renang di hotel bintang empat tersebut. Selain menampilkan bunga dan satwa, karya lukis bebagai ukuran itu ada pula yang menghadirkan seni budaya sebagai objek lukisan.

Ida Fitria misalnya menyuguhkan empat karya dengan tema bunga dan satwa. “Saya sangat mencintai alam sekitar. Mereka ada di sekitar kita. Dan tanpa kita sadari tanaman dan satwa ini menjadi bagian dari keselarasan hidup kita,” paparnya.

Menurut Ida, hadirnya satwa liar pun turut menciptakan keselarasan dalam kehidupan. “Populasi alam itu pasti selaras, ada yang buas ada yang jinak. Kalau kehidupan tidak selaras, pasti sudah terjadi bencana, seperti gempa dan musibah lainnya,” ungkap wanita berhijab ini.

Ida Fitria dan karya lukis bunga mawarnya.

Ida lalu menunjuk karyanya yang menggambarkan sosok serigala. “Sebuas-buasnya binatang dia akan makan yang biasa dia makan saja, tidak akan menyimpang,” tandasnya.

Pelukis yang sering menghadirkan karyanya di sejumlah pameran bersama ini juga menunjuk karyanya yang lain yang bergambar bunga mawar merah dan mawar kuning. “Bunga ini jangan dilihat durinya, seperti juga pada manusia jangan dilihat kekuranganya,” urainya.

Ida menambahkan, setiap makhluk pasti ada kekurangan dan kelebihan. “Meski berduri, bunga ini cantik dan enak dipandang. Jadi keduanya saling melengkapi,” tuturnya.

Sama seperti Ida Fitria, pelukis Dona Ghani pun menghadirkan karyanya yang menggambarkan flora dan fauna. Bedanya, selain bunga, Dona memajang keindahan kupu-kupu.

“Ini karya saya setelah lama vakum,” ucap Dona yang lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa Surabaya tahun 1995.

Kupu-kupu karya Dona Ghani.

Dengan nada merendah Dona menyatakan kualitas lukisannya masih jauh dibanding para pelukis lain yang karyanya dipajang di ruangan yang sama. “Tapi ajakan untuk pameran ini membangkitkan semangat saya yang sudah lama tidak menggoreskan kuas di atas kanvas,” katanya.

Mengenai tiga karyanya yang dipamerkan di Hotel Fairfield, Dona menyatakan sebagian besar menyiratkan pesan siklus kehidupan. “Seperti bunga itu. Satu saat dia tumbuh dan berkembang, di saat lainnya dia layu dan gugur. Begitu pula kita semua di dunia ini,” beber pelukis yang aslinya bernama Anovitadonalia ini.

Sedang lukisan kupu-kupu, Dona menegaskan bahwa yang penting dalam kehidupan adalah proses dan bukan tujuan. “Seperti saat melukis ini. Kalau ditanya hasilnya, jujur saya bilang tidak puas. Tapi saya menikmati proses yang saya lakukan selama menyelesaikan seluruh lukisan ini,” ujarnya. dit

Pos terkait