Nanti Malam, Gonjang Ganjing Dolar-Rupiah ala Seniman Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara di Gedung Museum Uang BI

iniSURABAYA – Ludruk bisa menyampaikan pesan dalam banyak hal dan permasalahan masyarakat. Bahkan soal ekonomi, termasuk dolar yang belakangan jadi gunjingan masyarakat lantaran nilainya sempat merangkak naik.

Lewat tokoh macam Suro Mukidi, seniman ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara ingin menyampaikan pesan perlunya mewaspadai orang-orang yang selalu berusaha mencari untungnya sendiri. Dan sebaliknya justru dari sosok Baba Asiong diperoleh pelajaran tentang sikap cinta pada Tanah Air lantaran keteguhannya tidak mau menukar uangnya dengan dolar.

Bacaan Lainnya

Cerita ‘Pahlawan Rupiah’ akan dibawakan seniman ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara di Gedung De Javasche Bank Jl Garuda no 1 Surabaya, Jumat (9/11/2018). Pertunjukan yang digelar mulai pukul 19.00 itu akan berlangsung selama 90 menit.

Yang terlibat dalam pentas nanti malam seluruhnya seniman ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara. Misalnya, Hengky Kusuma berperan sebagai Baba Asiong, lalu Suro sebagai Mukidi. Selain itu juga hadir Sri Yuni (istri Baba Asiong), dan Arie Setiawan (anak Baba Asiong). Suro juga kebagian peran untuk melawak bersama Sabil, Panji, Gibran, dan Damar.

Untuk Tari Bedayan dan koor akan dilakukan oleh mak Suwono, mak Pri,  Kristin, Bu Sur,  Bu Nur,  Dian, serta Arie Setiawan. Tari Ngremo akan disajikan oleh Kitri.

“Dalam rangka Hari Pahlawan, kami bersama Bank Indonesia mencoba membangun destinasi wisata seni pertunjukan ludruk di gedung bekas Bank Central yang sekarang menjadi Museum Uang BI. Pertunjukan ini sekaligus sebagai sebuah wacana untuk Kota Pahlawan Surabaya,” kata Meimura, tokoh ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara.

Menurut Meimura, ‘Pahlawan Rupiah’ bercerita tentang si penjual getuk yang tidak terpengaruh oleh situasi ekonomi, khususnya goncangan naik turunnya rupiah. Karena produksi getuknya terbuat dari bahan-bahan yang dimilikinya sendiri.

Ketela pohong, dan kelapa diambil dari kebunnya sendiri. Begitu pula kebutuhan lain untuk membuat getuknya itu. Karena itu dia bisa menjual sesuai dengan kemampuan pembelinya yang nota bene di lingkunginya sendiri.

Di sisi yang lain, ada seorang bernama Suro Mukidi sangat takut bila uangnya merosot nilainya karena dolar terus merangkak naik. Sehingga berapapun uang yang dia punya selalu ditukarkan dengan dolar dan ditabung di bank luar negeri.

Hal itu berbeda dengan Baba Asiong. Karena cintanya pada negeri ini, dia tidak mau dan terpengaruh oleh ulah Mukidi. Baba Asiong tidak mau menukar uangnya dengan dolar AS dan kekayaannya tetap disimpan di dalam negeri.

“Intinya, dia rela uang dan kekayaan merosot bahkan hancur demi Tanah Airnya. Tiga fenonena inilah yang disajikan nanti malam,” ujar Meimura.

Pria kelahiran Surabaya ini menambahkan,”Pesan yang ingin disampaiakan, bahwa bersikap atau berbuat seperti penjual getuk adalah contoh berdaulat secara ekonomi. Sedang sikap seperti Baba Asiong adalah contoh membela bangsa dan Tanah Air, dan orang yang bersikap seperti Suro Mukidi harus diwaspadai karena mau untungnya sendiri.” dit

Pos terkait