Dalang Widodo Bangga Karena Wayang Potehi Makin Dikenal di Mancanegara, ‘Kami Selalu Dinantikan’

Widodo, dalang senior Wayang Potehi Indonesia sedang memainkan alat musik yang jing bersama para seniman .

iniSURABAYA – Widodo, dalang Wayang Potehi dari Desa Dugo, Jombang ini mengaku sudah berada di lingkungan seni tradisional asal Negeri Tiongkok itu sejak tahun 1983.

“Waktu itu saya masih nyantrik. Jadi asisten dalang,” begitu katanya kepada iniSurabaya.com, Selasa (5/2/2019).

Bacaan Lainnya

Baru pada tahun 2011, Widodo menetapkan langkahnya sebagai dalang. “Ini semacam panggilan hati. Karena rumah saya juga dekat klenteng (Klenteng Gudo),” tegasnya.

Baca Juga : https://inisurabaya.com/2019/02/meski-tantangan-tidak-mudah-wayang-potehi-tetap-akan-dipertahankan-sekarang-orang-makin-mudah-cari-hiburan/

Menurut Widodo, para seniman Wayang Potehi mayoritas memang mereka yang tinggal di kawasan Klenteng Gudo. “Sekarang semua seniman Potehi malah bukan keturunan China. Yang asli China sudah habis. Tak ada lagi yang meneruskan tradisi Wayang Potehi,” paparnya.

Diaku Widodo, kesenian Wayang Potehi sebelum Orde Baru sempat mengalami masa kejayaan. “Dulu penontonnya selalu ramai. Kami selalu dinantikan, karena untuk bisa menyaksikan Potehi hanya setahun sekali. Kami selalu keliling dari daerah ke daerah,” katanya.

Widodo dan para seniman Wayang Potehi lainnya bisa bangga, lantaran popularitas seni asli Negeri Tirai Bambu ini juga dikenal di mancanegara. Kelompok seni Wayang Potehi yang bernama Fu He An ini sering diundang ke sejumlah negara. Diantaranya adalah Taiwan, Jepang, dan Malaysia. 

“Setiap pentas kami tetap pakai bahasa Indonesia. Ada penerjemah yang menjelaskan rangkaian cerita yang kami bawakan di setiap pementasan,” imbuhnya.

Seniman Wayang Potehi yang bernaung di bawah Paguyuban Wayang Potehi Indonesia ini beranggotakan 25 orang yang terbagi dalam lima kelompok Wayang Potehi, termasuk lima orang dalang.

Pementasan Wayang Potehi ini, lanjut Widodo, awalnya untuk mengisi acara ritual di klenteng-klenteng, seperti misal acara ulang tahun Dewa-Dewi. Tetapi, belakangan Wayang Potehi sering pula mengisi acara-acara di gereja maupun di pondok pesantren.

Cerita yang dibawakan adalah sejarah-sejarah kerajaan di Tiongkok. “Kami punya 30 cerita. Jika dipentaskan di klenteng bisa berlangsung 2-3 bulan, bersambung setiap hari,” urainya.

Namun, jika dalam bentuk pementasan di acara Imlek atau acara lain di luar klenteng, yang diambil berupa cuplikan-cuplikan saja. “Yang di luar klenteng ini bisa lebih cepat. Biasanya hanya sekitar dua jam,” tegasnya. dit

Pos terkait