Simak Sejarah NU di Museum Ini, Ada Alquran Raksasa dari Iraq

265 views

iniSURABAYA.com – Sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta, Surabaya memiliki destinasi wisata religi cukup banyak. Salah satunya adalah Museum Nahdlatul Ulama (NU).

Berbeda dengan kawasan Makam dan Masjid Sunan Ampel yang ada di Surabaya Utara, Museum NU ini justru ada di area Surabaya Selatan, yaitu di Jl Gayungsari.

Lokasi Museum NU ini mudah ditemukan karena berada di sekitar 300 meter arah timur Masjid Agung Al Akbar Surabaya. Museum NU yang dibuka pertama kalinya oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 25 November 2004 ini terdiri atas tiga lantai dengan luas bangunan 900 m2 yang berdiri di tengah areal seluas 3.000 m2.

Gedung berkubah hijau ini terkesan klasik karena dibangun dengan arsitektur yang memadukan Islam-Mediteranian. Di bagian dalam, bangunan yang terdiri dari tiga lantai ini terdapat berbagai dokumen, benda-benda seni, serta pusaka bersejarah NU.

Di museum ini terdapat pula karya tulis para ulama NU. Koleksi lain di museum ini adalah karya-karya ilmiah dari berbagai kalangan tentang NU, ulama dan pesantren.

Museum NU menyimpan dokumen bersejarah berupa surat Raja Saudi tentang Komite Hijaz, Statuta Pendirian NU pada tahun 1926, dan naskah Resolusi Jihad.

Juga ada baju anggota Banser Ahmad Riyanto yang terkena bom saat pengamanan gereja pada malam Natal 2000 di Mojokerto, tongkat KH Wahab Chasbullah.

Museum ini juga menyimpang Alquran raksasa yang berasal dari negara Iraq, serta ada Alquran kuno yang berusia 300 tahun. “Alquran raksasa ini diselamatkan ketika ada perang di negara Iraq pada waktu itu. Sampulnya terbuat dari kulit onta, dan tulisannya dari emas yang diencerkan,” kata Sayfuddin, pemandu di Museum NU Surabaya kepada iniSurabaya.com.

Ketika pengunjung masuk area lantai pertama terdapat tempat penyimpanan dokumen NU, baik berupa dokumen pendirian NU dan perkembangannya dari periode ke periode maupun buku-buku tentang NU yang ditulis para ulama dan tokoh NU.

Di lantai ini pula terdapat foto para tokoh NU, lukisan, serta manuskrip. Sedang di lantai dua, terdapat benda-benda pusaka tokoh NU, diantaranya tongkat Hasyim Asyari, serta sejumlah keris dan benda-benda pusaka warisan para ulama  

Sementara di lantai tiga digunakan untuk ruang perpustakaan, ruang seminar, dan ruang pemutaran film. “Film yang diputar adalah film dokumenter mengenai berdirinya museum NU dan berdirinya NU,” ungkap Sayfuddin. dit/ita

#museumnu #nahdlatululama #wisatareligi

Posting Terkait