Nuit Des Idees 2022 : Penanganan Pasien Covid-19 Dibantu Robot

Diskusi ‘Nuit des idées’ (‘Malam Ide’) yang diadakan di IFI Surabaya pada hari kedua, Sabtu (5/2/2022)

iniSURABAYA.com – Penanganan masalah Covid-19 masih menjadi topik menarik di tengah merebaknya varian Omnicron belakangan. Para praktisi medis bahkan terus mengembangkan teknologi agar dapat menangani masalah kesehatan  tersebut dengan baik.  

Profesor Nasronudin, Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya misalnya menyatakan saat ini inovasi-inovasi bidang kesehatan gencar dilakukan untuk membantu pasien, dan salah satunya adalah dengan penggunaan robot.

Bacaan Lainnya

Sang profesor yang juga salah satu orang yang memiliki pengetahuan luas mengenai Covid-19 mengungkapkan hal tersebut saat tampil sebagai narasumber utama di acara ‘Nuit des idées’ (‘Malam Ide’) yang diadakan di Auditorium IFI, Sabtu (5/2/2022).  

Ketua Asosiasi Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri ini menyemangati agar pasien dapat sembuh dari Covid, maupun long Covid. Menurut Profesor Nasronudin, selain melalui pengobatan, juga diperlukan semangat untuk pulih serta dukungan dari orang sekitar.

Diskusi juga membahas perihal anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dan pendampingan mereka saat periode pandemi. Dr dr Sawitri Retno Hadiati, Ketua Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus dan Ibu Onne, psikolog dari yayasan tersebut, menekankan pentingnya hubungan antara orangtua-ABK.

Yayasan ini khususnya mengembangkan program-program kreatif, yang memungkinkan anak-anak berkebutuhan khusus memperoleh kepercayaan diri.

Sehari sebelumnya, Annisa Sekaringrat, peneliti undangan (visiting researcher) Centrius (Center for Identity and Urban Studies), membahas perihal pendampingan bagi para pengungsi.

Deisy Nathalia, Ecosystem Developer dari LSM Life Project For Youth (LP4Y) cabang Surabaya memaparkan misi untuk integrase profesional para perempuan muda di Surabaya.

Melebihi kesulitan material, kedua narasumber diskusi menekankan bahwa tantangan terbesar mereka adalah mengubah mentalitas dan mengakhiri prasangka terhadap para perempuan dan orang-orang berekonomi lemah.

Acara bersuasana santai selama dua hari ini setiap kali diawali dengan pemutaran film komedi Prancis, dengan subtitel bahasa Inggris atau Indonesia, yang memungkinkan untuk mengenalkan tema diskusi melalui humor dan terlihat realis, dan membandingkan situasi di Prancis dan di Indonesia.

Film pertama ‘Invisibles’ karya Jean-Louis Petit, rilis pada 2019, mengisahkan para perempuan berkarakter khas masing-masing dan lucu. Mereka memiliki nama alias tokoh-tokoh perempuan seperti ‘Lady Di’, ‘Brigitte Macron’, dan ‘Edith Piaf’.

Mereka kehilangan tempat tinggal dan mendapati diri mereka tanpa rumah dan pekerjaaan, para perempuan ‘tak terlihat’, yang tak dipedulikan. Meski kemudian, berkat keberanian dan solidaritas mereka, para perempuan ini mengungkap semua bakat dan mendapatkan martabat mereka.

Film hari kedua ‘Stars by the Pound’ karya Marie-Sophie Chambon, rilis tahun 2018, menceritakan kisah seorang remaja perempuan yang mengalami obesitas dan menyadari bahwa hal ini tidak memungkinkannya untuk menjadi seorang astronot.

Film penuh sensitivitas emosi gejolak remaja yang meski sakit dan mengalami penolakan, mengejar mimpi-mimpi dan mencoba membangun hidup mereka.

Pramenda Khrisna, Penanggungjawab Budaya & Komunikasi Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya, lembaga pendidikan ini tak hanya untuk belajar bahasa Prancis, namun juga menyelenggarakan program kebudayaan yang berlangsung dalam bahasa Indonesia, tanpa dipungut biaya, serta terbuka untuk siapa saja.

Salah satunya adalah acara berkonsep orisinal, ‘Nuit des idées’ (‘Malam Ide’), yang diadakan Jumat-Sabtu (4-5/2/2022), secara terbatas, dengan menerapkan protokol kesehatan, di Auditorium IFI. ‘’Tema perjumpaan ini mengangkat seputar isu solidaritas, bersama para ahli terkemuka dan berkomitmen,’’ katanya. ana

Pos terkait