PM Mark Rutte Minta Maaf Atas Kekerasan Struktural di Masa Perang Kemerdekaan Indonesia

Mark Rutte, Perdana Menteri Belanda

iniSURABAYA.com – Mark Rutte, Perdana Menteri Belanda meminta maaf soal kekerasan yang ekstrem dan sistematis saat perang kemerdekaan Indonesia pada masa 1945-1949.

Permintaan maaf ini muncul setelah penelitian mengungkap kekerasan yang dilakukan Belanda saat masa kolonial di Indonesia.

“Atas nama pemerintah Belanda, saya menyampaikan permintaan maaf terdalam saya kepada rakyat Indonesia atas kekerasan sistematis dan ekstrem dari pihak Belanda pada tahun-tahun itu,” kata Perdana Menteri Mark Rutte dalam konferensi pers sebagaimana dikutip dari AFP.

Pria kelahiran 14 Februari 1967 ini mengatakan menyesal pemerintah Belanda sebelumnya menutup mata terhadap masalah ini. “Budaya yang berlaku adalah melalaikan dan rasa superioritas kolonial yang salah tempat. Itu adalah realisasi yang menyakitkan, bahkan setelah bertahun-tahun,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Rutte menyatakan bahwa yang terjadi di masa itu merupakan ‘halaman hitam’ dan diakui sebagai kegagalan kolektif. “Harus diakui sepenuhnya bahwa kita semua telah gagal,” cetus Rutte.

Rutte yang menjabat sebagai Perdana Menteri Belanda sejak 14 Oktober 2010 ini juga meminta maaf kepada semua orang yang tinggal di Belanda yang harus hidup dengan konsekuensi perang kolonial di Indonesia, termasuk para veteran perang yang berperilaku baik.

Dalam studi yang dilakukan selama empat tahun oleh peneliti Belanda dan Indonesia, diketahui tentara Belanda membakar desa-desa, melakukan penahanan massal, penyiksaan, dan mengeksekusi masyarakat pada 1945-1949.

Kekerasan ekstrem ini dilakukan dengan dukungan diam-diam dari pemerintah. Dalam studi ini peneliti menyebut bahwa pihak Belanda mulai dari politikus, pejabat, pegawai negeri, hakim, dan sebagainya mengetahui tentang kekerasan ekstrem dan sistematis itu.

“Ada kemauan kolektif untuk membenarkan dan menyembunyikannya, dan membiarkannya tanpa hukuman. Semua ini terjadi dengan tujuan yang lebih tinggi: memenangkan perang,” ungkap peneliti.
Peneliti membeberkan pula bahwa kejahatan itu meliputi penahanan massal, penyiksaan, pembakaran kampung, eksekusi, dan pembunuhan warga sipil.

Kekerasan ini terjadi saat Belanda ingin mempertahankan bekas jajahannya setelah Indonesia menyatakan kemerdekannya pada 1945. Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia dan meninggalkan negeri ini pada 27 Desember 1949.

Permintaan maaf Belanda kepada Indonesia ini bukan yang pertama kalinya. Willem-Alexander, Raja Belanda sebelumnya secara resmi meminta maaf saat berkunjung ke Indonesia pada 2020 atas ‘kekerasan berlebihan’ selama penjajahan.

Tetapi, permintaan maaf PM Rutte kali ini adalah pengakuan pertama Belanda bahwa ada kekerasan brutal yang disengaja secara efektif selama perang. wid  

Pos terkait