Dyah Wijayanti dan ‘My Guillain Barre Syndrome’ (1)

Dyah Wijayanti

CATATAN REDAKSI :
Pemegang gelar dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini  mendadak dijangkiti sakit. Dan penyakitnya justru jenis yang sempat bikin dia terkesan saat mengenalnya di masa kuliah.
Apa itu Guillain Barre Syndrome (GBS)? Dyah Wijayanti memaparkannya secara berseri melalui akun Facebook pribadinya. Atas seijinnya, kisah terkait otoimun ini disajikan buat pembaca
iniSurabaya.com secara berseri mulai hari ini.
Semua tulisan diunggah persis seperti tulisan Dyah Wijayanti di Facebook. Semoga bermanfaat.
 

Dear Diary,

Bacaan Lainnya

Ketika pertamakali mengenal Guillain Barre Syndrome (GBS) saat kuliah, lebih 30 th lalu, aku sangat terkesan, dan sejak itu ga pernah lupa. Ini adalah penyakit autoimun langka yang menyerang syaraf tepi.

Namanya keren, namun membawa aura kegelapan bak ‘dia yang namanya tak boleh disebut’, Lord Voldemort, yang menakutkan masyarakat sihir Hogwarts dalam serial Harry Potter.

GBS mempunyai daya membunuh yang brutal. Bagaimana tidak, penderitanya dibuat lumpuh secara bertahap dan sistematis, mulai dari bawah (kaki), kemudian terus naik, naik, hingga tangan, seluruh wajah dan akhirnya melemahkan dan melumpuhkan otot pernapasan.

Kelumpuhan yang diderita pun berlangsung akut, mendadak, segera setelah demam/diare/batuk atau gejala infeksi lainnya.

Apakah bisa dicegah?

Hingga detik ini tak ada satu cara pun yang bisa mencegahnya. Sehingga ketika ditakdirkan untuk menjalaninya, kudu siap melakoni dengan sabar tanpa batas, tanpa perlu dipertanyakan atau disesali.

Namun dunia kedokteran terus berkembang…

Saat ini penyakit itu bisa dilawan. Dengan suntikan imunoglobulin perjalanan penyakit bisa di stop, dan kemudian pulih sendiri secara bertahap, biasanya butuh waktu 2-6 bulan. Meski tidak ada usaha yang 100% berhasil, dan semua itu perlu ditukar dengan harga yang mengundang helaan napas panjang… namun ini adalah harapan besar.

Qadarullah aku saat ini menjadi salah satu penderita GBS.

Setelah mengalami demam tak jelas asalnya selama 3 hari, dimulai pada 9 Januari 2022, kemudian muncul keluhan2 yang tak biasa, yaitu gusi bengkak berdarah, lidah seperti disayat-sayat, rasa makanan terasa pahit dan badan gatal-gatal.

Hikmahnya BB turun 3 kg dalam 3 hari tanpa perlu susah payah olahraga, huhaaa, karena tentu saja terjadi kesulitan makan (kata ustaz harus senantiasa mencari hikmah dalam setiap peristiwa).

Selang 4-5 hari semua keluhan itu hilang sendiri, menyisakan gatal luarbiasa di telapak tangan dan kaki saja, hingga keseluruhan telapak memerah.

Syukur alhamdulillah sekali lagi secara ajaib keluhan ini pun menghilang begitu saja setelah 2 hari.

Eh, bukan hilang begitu saja, namun berganti wujud menjadi kesemutan, yang hanya kurasakan di telapak tangan dan kaki.

Bukan kesemutan biasa, namun telapak ini berasa seperti diikat erat dengan karet gelang berhari-hari (kebayang ya rasanya 🙄, yang pasti hhh gitu deh 😬).

Makin hari berasa makin sensitif, dan bukan kebas, baal atau hilang rasa… Usapan lembut berasa seperti diiris. Guyuran air yang menyegarkan seperti percikan kembang api di tanganku…clekit clekit…duuuhh. *

Pos terkait