Pamekasan Batik Fashion Draping Competition: Upaya Makin Akrabkan Wastra Nusantara ke Generasi Milenial

Ratusan murid SMK Negeri 3 Malang ditantang merangkai kain batik jadi busana dengan menggunakan teknik draping.

iniSURABAYA.com – Meski sudah dilakukan berbagai upaya untuk mengenalkan batik ke generasi muda, tetapi upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil.

Kesan anak milenial tidak minat memakai wastra Nusantara ini masih tetap melekat. Menjawab tantangan tersebut Embran Nawawi mencoba melakukan strategi yang tidak biasa. Melalui agenda lomba Draping Kain Batik Pamekasan, desainer senior tersebut menantang pelajar SMK Negeri 3 Kota Malang untuk unjuk bakatnya.

Bacaan Lainnya

Tak tanggung-tanggung, 130 murid menggunakan batik dan tampil dalam karya fashion draping yang unik. Masing-masing anak menggunakan tiga lembar batik, jadi jumlah batik Pamekasan yang digunakan untuk acara ini seluruhnya 390 lembar.

“Mereka adu ketrampilan menciptakan karya fashion di atas dummy (dressform) dengan teknik draping menggunakan batik,” ujar Embran kepada iniSurabaya.com.

Kegiatan yang melibatkan tiga jurusan di SMKN 3 Malang yaitu Tata Busana, Fashion Desain, dan Fashion Bisnis dari kelas 12 dan digelar di Malang Town Square (Matos) ini menyita perhatian pengunjung, karena merupakan lomba draping terbesar yang pernah ada.   

Desainer yang juga pengajar di sejumlah perguruan tinggi ini mengakui bahwa dirinya yang selalu menggunakan batik dalam setiap karya ini berusaha menularkan bakat dan selera fashionnya kepada 130 siswa SMKN 3 Malang.

Untuk mewujudkan keinginan itu, desainer fashion ini menggagas  kolaborasi besar antara Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pamekasan dan SMKN 3 Malang dalam bentuk lomba Draping Kain Batik Pamekasan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari acara ‘Gebyar Batik Pamekasan 2022–Road Show Jawa Bali’.

Embran merasa mulai melihat titik terang untuk dapat memberi pengetahuan batik pada generasi muda. “Setidaknya saya bisa melihat selera mereka dari cara mereka memilih batik yang mereka suka. Dan ini sudah saya lakukan sejak tahun 2009 saat batik Indonesia menjadi batik warisan budaya dunia,” ujarnya.

Embran meyakini fashion batik benar-benar siap go global jika peminat dari generasi muda mulai menuntut trennya bagi mereka.

Untuk menentukan pemenang di lomba ini tidak dilakukan dengan cara penilaian seperti lomba pada umumnya. Tetapi sistem penilaian menggunakan 1.000 stiker yang disebar ke pengunjung Matos.

“Mereka (pengunjung) bebas memilih karya yang mereka suka,” tandas Embran. Sistem ini lebih terbuka dengan melihat selera pasar dari karya drapingnya, warna batik hingga desain batiknya.

Terpilih tujuh terbaik dengan stiker paling banyak dan tiga pilihan desainer Embran Nawawi yang memang ahli dalam mendraping dengan penilaian mengacu pada logika draping, teknik draping dan total look dalam fashion.

Siapapun pemenangnya seluruh peserta merasa puas dengan lomba terbesar ini karena masing-masing peserta mendapatkan piagam penghargaan sebagai partisipan dan pengguna batik Pamakesan dari Disperindag.

Informasi lain yang diperoleh iniSurabaya.com, peserta lomba ini diminta membayar biaya pendaftaran Rp 150.000. “Sebenarnya ini merupakan transaksi jual beli batik pada umumnya. Karena uang pendaftaran digantikan dengan batik sebanyak tiga lembar yang per-lembarnya seharga Rp 60.000,” ungkap Achmad Sjaifudin, Kepala Disperindag Pamekasan.

Achmad menambahkan, acara ini mengangkat penjualan para perajin batik di Pamekasan karena langsung terjual sebanyak 390 lembar batik.

Achmad juga mengatakan terharu melihat antusiasme generasi muda menggunakan batik ini. “Jujur saya biasanya hanya melihat orang dewasa yang tertarik pada batik,” cetusnya.

Achmad menekankan pula bahwa lomba tersebut merupakan cara terbaik bagi untuk memperkenalkan batik Pamekasan pada generasi muda yang juga pelaku fashion serta pengguna.

“Saya yakin nanti di usia mereka sudah memiliki penghasilan mereka akan terbiasa belanja batik maupun fashion batik,” tuturnya. ana

Pos terkait