Kreasi Batik Borobudur Terus Berkembang, Bikin Kepincut Artis-Artis Papan Atas Ini untuk Memborong

146 views
Ragam Batik Borobudur makin dikenal dan favorit turis lokal maupun internasional.

iniSURABAYA.com | MAGELANG – Batik Borobudur, hasil kreasi anggota Paguyuban Batik Borobudur terus berkembang. Dan setelah dibuat dengan teknik tulis maupun cap pasar pun meluas. Tidak hanya lokal namun juga sampai internasional.

Tak sedikit turis asing yang membeli Batik Borobudur saat berkunjung ke galeri di Dusun Ngaran ini. Ada pula sejumlah artis yang pernah mampir dan memborong Batik Borobudur, diantaranya Cornelia Agatha, pemeran Sarah dalam sinetron ‘Si Doel Anak Sekolahan’. Lalu ada juga musisi kawakan Purwacaraka, dan Trie Utami.

Harga kain Batik Borobudur berkisar Rp 400.000 hingga Rp 1 juta untuk kain dengan pewarna alami. Harga taplak berkisar Rp 80.000 ukuran satu meter dengan teknik cap.

“Batik Borobudur juga berkembang menjadi berbagai produk seperti baju, taplak meja dan sapu tangan,” kata Siti Rahayu, anggota Paguyuban Batik Borobudur sebagaimana dikutip dari nyatanya.com.

Untuk penggambaran motif ke kain, Siti Rahayu menyebutkan rata-rata membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Namun karena anggota paguyuban juga melakukan pekerjaan lainnya, penyelesaian batik bisa lebih dari seminggu untuk kain ukuran 2,5 meter dan 2 meter.

Siti Rahayu mengungkapkan, pada awalnya pewarnaan yang digunakan hanya menggunakan warna sintetis. Namun selanjutnya berkembang menggunakan pewarna alami.

Bahan yang digunakan seperti kayu, daun, dan akar. Pewarna dari mangga biasanya menghasilkan warna kuning. Sedangkan pewarna dari pohon jati menghasilkan warna merah.

Paguyuban Batik Borobudur juga membuka workshop dan galeri di Rumah Ketela Borobudur. Dengan konsep desa wisata, wisatawan diajari membuat batik dari proses mencanting, pewarnaan, hingga finishing.

Mereka juga membuka kesempatan workshop praktik membatik, yaitu membuat sapu tangan bermotif batik yang dibanderol dengan harga Rp 25.000. Hasilnya bisa langsung dibawa pulang.

Perempuan yang belajar menjahit lewat kursus ini mengungkapkan, pandemi Covid-19 juga mempengaruhi penjualan Batik Borobudur. Omset penjualannya menurun dibandingkan sebelum pandemi.

Selama pandemi, workshop hanya buka beberapa bulan dan sempat tutup lagi karena adanya varian omicron yang baru-baru ini muncul.

“Wah pandemi itu ngeri banget, sampai sekarang pun masih ada gejala-gejala dan belum pulih. Rata-rata lumayan sih, kadang kalau ramai Lebaran itu sampai Rp 10 juta-an ya, kalau hari biasa ya sekitar Rp 5 juta (per bulan),” paparnya. wid

#batikborobudur #candiborobudur #paguyubanbatikborobudur

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)