Jadikan Harpitnas sebagai Libur Nasional, Pemerhati Pariwisata Unair Beri Komentar Begini

Novianto Edi Suharno SSTPar MSi, Pemerhati pariwisata Universitas Airlangga

iniSURABAYA.com – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengusulkan agar Harpitnas alias Hari Kejepit Nasional dijadikan hari libur nasional.

Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi para pekerja yang sering merasa tidak nyaman karena harus bekerja di hari Jumat padahal hari Kamis merupakan hari libur.

Bacaan Lainnya

Dalam narasinya, Sandi menyatakan bahwa kompensasi terhadap hari libur yang jatuh pada hari Minggu perlu dilakukan. Selain itu, saat usulannya tersebut dikabulkan, ia berharap akan menggeliatnya UMKM, lapangan kerja serta peluang usaha juga mampu tercipta secara masif.

Novianto Edi Suharno SSTPar MSi, Pemerhati pariwisata Universitas Airlangga (Unair) menyatakan bahwa kebijakan itu memang dapat mendorong masyarakat untuk berwisata ke tempat yang lebih jauh, bahkan menginap.

“Adanya hari libur tadi memungkinkan wisatawan melakukan pergerakan ke tempat-tempat wisata dalam jumlah yang relatif banyak,” tandasnya.

Edi mengaminkan pernyataan Menteri Sandi tentang korelasi positif antara liburan dan produktivitas kerja. Baginya, menyeimbangkan liburan dan bekerja akan meningkatkan fokus dan menghilangkan stres. Hal tersebutlah yang diharapkan ketika kembali bekerja.

“Bahkan di beberapa penelitian disebutkan, kalau memang seimbang antara libur dan masa kerja atau jam kerja itu bisa meningkatkan produktivitas individu sampai dengan 80 persen,” tutur dosen yang juga menjabat Wakil Dekan III Fakultas Vokasi Unair tersebut.

Dalam hari libur pun, masyarakat diimbau agar mampu memanfaatkannya dengan baik. Kalau memang tidak mampu berlibur ke tempat pariwisata, memilih untuk tetap di rumah bukanlah pilihan yang salah.

Yang terpenting ialah manfaatkan waktu libur untuk berkumpul bersama keluarga. “Kembali kepada masyarakat kita, bisa tidak memaknai hari libur tersebut benar-benar untuk me-refresh dirinya. Jadi kalau kata dasarnya refreshing itu me-refresh kembali. Jadi mengembalikan pemahaman kita untuk menjadi produktif lagi,” imbuhnya.

Edi berpesan agar masyarakat tidak terlalu terbawa suasana sehingga lepas kontrol. Berwisata pun harus dilakukan dengan bijak serta tetap mengindahkan aspek kesehatan dan keselamatan.

Seperti halnya ketika cuaca sedang buruk, maka hindarilah kegiatan wisata alam seperti gunung atau laut. “Kita belum sepenuhnya lepas dari masalah Covid-19. Tentu masalah kesehatan ini menjadi poin penting yang tetap harus diwaspadai di mana pun kita berada, sekali pun PPKM sudah dinyatakan selesai,” pungkasnya. yul

Pos terkait