

Sesuai nama komunitas ini, anggota Warumas adalah jurnalis yang usianya sudah di atas 50 tahun. “Pada hakekatnya, seorang jurnalis atau wartawan tak mengenal kata pensiun,” tegas Toto Sonata, salah seorang anggota Warumas.
Wartawan itu, kata Toto Sonata, adalah pribadi yang tak bisa diam. Hanya duduk manis saja menjalani masa pensiunannya. Ia terus bergerak. “Bahkan, sepenuh daya kreativitasnya untuk tetap menulis,” ujar mantan Redaktur Pelaksana Mingguan Mahasiswa yang kemudian berganti nama jadi Mingguan Memorandum ini.
Toto menambahkan, kini wartawan itu sedang bermetafomosa sebagai penulis puisi untuk ikut merayakan peringatan HUT ke-78 Jawa Timur. “Sangat pas karena anggota Warumas dari berbagai kota di Jatim. Selain Surabaya, ada yang dari Mojokerto, Jombang, Malang, dan Bojonegoro,” ungkap Kris Maryono, Ketua Warumas.
Hadir dalam Antologi Puisi ‘Saronce Sedap Malam’, para wartawan yang unjuk karyanya itu adalah Achmad Pramudito, Amang Mawardi, Aming Aminoedhin, Arieyoko, Ida Noershanty Nicholas, Imung Mulyanto, Karyanto, Kris Maryono, Mudjianto, Rokim Dakas, Sasetya Wilutama, Toto Sonata, Widodo Basuki, dan Yuli Iksanti.
















