
A Soiful, pelukis surealisme gelar karya di Galeri Filadelvia Surabaya. (foto: IST)
Aliran ini lahir di Eropa pasca-Perang Dunia I sebagai bentuk perlawanan terhadap rasionalitas kaku yang dianggap gagal mencegah kehancuran dunia.
Surealisme menawarkan jalan masuk ke dunia bawah sadar, mimpi dan ilusi pada wilayah batin yang tak bisa dijelaskan logika. “Di Indonesia, aliran ini menemukan tanah yang subur,” tandasnya.
Indonesia bukan hanya negeri dengan keragaman budaya tetapi juga kerumitan sosial dan politik yang kerap membuat kenyataan terasa lebih absurd daripada fiksi. Dalam lanskap ini, banyak perupa tertarik menggunakan pendekatan surealis untuk menyuarakan kegelisahan pribadi maupun kritik sosial.
“Mereka menggali mitos, spiritualitas lokal, dan trauma kolektif bangsa dalam bahasa simbolik yang kaya makna,” cetus Rokim yang di gelaran pameran ini berperan sebagai pembantu umum.
Rokim lalu merujuk pada sosok Ivan Sagita yang dikenal dengan lukisan-lukisan yang memancarkan kesunyian mistis. Figur-figurnya seperti melayang antara dunia nyata dan gaib. Sementara Heri Dono membawa surealisme ke ranah satire dengan menciptakan karakter hibrida antara wayang, manusia, dan mesin dalam kritik terhadap politik dan kekuasaan.
















