
Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur hadir dan memberi dukungan gelaran acara Bagi-Bagi Kacamaa Gratis yang diadakan di Islamic Center Surabaya, Sabtu (11/10/2025). (foto: dok Humas Pemprov Jatim)
Kelainan refraksi atau gangguan pemfokusan objek, kata Firmansjah, adalah penyebab gangguan penglihatan terbesar pada usia di bawah 50 tahun dan dapat dikoreksi dengan kacamata.
“Kalau tidak ditangani secara dini, maka akan mengakibatkan penurunan fungsi penglihatan yang permanen, yang kadang-kadang tidak bisa lagi dilakukan koreksi dengan kacamata,” tandasnya.
Menanggapi pertanyaan mengenai kaitan penggunaan gawai yang belakangan massif dilakukan masyarakat, Firmansjah menyebut kelainan refraksi telah menjadi penyebab utama sebelum era gadget populer.
“Tetapi, perilaku melihat dalam jarak dekat terlalu lama dapat mempercepat progresivitas kelainan,” urainya.
Di Asia, prevalensi kelainan refraksi tercatat lebih tinggi dibandingkan ras lain. Firmansjah juga menyoroti masalah utama lain, yakni masyarakat sering kali tidak menyadari adanya kelainan pada matanya.
“WHO menyarankan pemeriksaan mata rutin itu minimal satu kali setiap tahun,” imbuhnya. */ap

















