
BG Fabiola Natasha (kiri) memapar salah satu karya siswa di gelaran NOLARTFEST 2025. (foto-foto: dok/IST)
Dampak bagi Ekosistem Seni Surabaya
Sementara Onggo Susilo, Ketua PKBM Nola berharap NOLARTFEST dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan seni dan budaya Kota Surabaya. Dengan menghadirkan karya anak-anak ke ruang publik, Nola ingin menunjukkan bahwa pendidikan seni mampu menjadi fondasi penting bagi generasi muda untuk membangun cara berpikir kreatif yang dibutuhkan dalam berbagai bidang, termasuk teknologi, desain, sains, dan kewirausahaan.
Festival ini juga melibatkan kolaborasi dengan penyedia produk seni, pendidik, dan pelaku industri kreatif dalam upaya menguatkan ekosistem seni–pendidikan–teknologi di Surabaya. Kolaborasi tersebut mencerminkan komitmen Nola untuk membuka akses lebih luas bagi siswa terhadap dunia profesional, sekaligus memperkaya kualitas pembelajaran seni di sekolah.
Onggo mengaku, sebagai festival seni onsite berskala besar pertama di lingkungan sekolah non-seni, NOLARTFEST diakui menghadapi berbagai tantangan teknis, mulai dari manajemen waktu pengerjaan karya, penyusunan ruang pamer, hingga koordinasi antarprogram.
“Meski begitu, dukungan kuat dari orang tua, komunitas seni, dan mitra kolaborator membuat penyelenggaraan festival berlangsung lancar dan mendapatkan respons positif dari masyarakat,” paparnya.
PKBM Nola merencanakan NOLARTFEST sebagai agenda tahunan yang diharapkan mampu menjadi ruang tumbuh yang konsisten bagi bakat seni siswa. Melalui kesinambungan kegiatan ini, Nola ingin memastikan bahwa kreativitas siswa tidak berhenti di satu momen, tetapi terus berkembang hingga menghasilkan kualitas karya yang lebih matang dari tahun ke tahun. wid
















