
Capaian ini sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata berbasis edukasi dan heritage, khususnya pada periode libur akhir tahun.
Dibangun pada 1904 sebagai kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), Lawang Sewu menjadi saksi awal berkembangnya jaringan perkeretaapian di Indonesia, yang menghubungkan Semarang dengan wilayah pedalaman Jawa.
Nilai sejarah tersebut terus dihadirkan dalam format yang relevan dengan generasi masa kini, menjadikan Lawang Sewu ruang belajar sekaligus ruang rekreasi yang inklusif.
Anne menambahkan, pengelolaan Museum Lawang Sewu diarahkan pada keseimbangan antara pelestarian bangunan Cagar Budaya Nasional dan penguatan fungsi edukasi publik.
“Kami menghadirkan pengalaman berkunjung yang adaptif terhadap perkembangan zaman, melalui fasilitas seperti Immersive Cinema serta penataan pencahayaan malam yang memperkaya eksplorasi sejarah perkeretaapian secara interaktif,” ujarnya.

















