Apa Perlunya Ajarkan Seks dan Seksualitas pada Anak Berkebutuhan Khusus? Tiga Wanita Ini Bicara Blak-Blakan di Seminar Forkasi

329 views
Forkasi Chapter Surabaya menggelar seminar ‘Pencegahan Pelecehan Seksual pada Individu Special Needs (Sebagai Korban atau Pelaku)’ di Aula BJTI Port Surabaya.

iniSURABAYA.com – Apakah seks itu? Apa bedanya seks dan seksualitas? Topik bahasan yang sering tabu jadi bahasan publik itu dipapar tuntas di seminar bertajuk ‘Pencegahan Pelecehan Seksual pada Individu Special Needs (Sebagai Korban atau Pelaku)’.

Acara yang diselenggarakan Forum Komunikasi Orang Tua Anak Spesial Indonesia (Forkasi) Chapter Surabaya itu digelar di Aula BJTI Port Surabaya, Sabtu (2/11/2019).

Tiga narasumber yang tampil dalam acara tersebut adalah Bonny Dewayanti PSsi (orangtua dari penyandang autis), Riska Timothy (pemilik Rumah Terang Terapi), dan Rosita Simin SIkom (Ketua Forkasi Chapter Surabaya).

“Anak berkebutuhan khusus sulit memahami hal yang bersifat abstrak macam seks dan seksualitas ini. Karena itu, orangtua harus sabar untuk memberi ilustrasi lewat visual,” tegas Bonny. 

Ibu lima orang anak ini kemudian memaparkan perjuangannya mendampingi anak sulungnya yang didiagnosa menderita autis saat usia dua tahun. Ditekankan Bonny, peran orangtua sangat besar untuk menghindari kemungkinan pelecehan seksual pada anak berkebutuhan khusus (ABK).   

“Peran orangtua tidak hanya soal mengawasi, tetapi juga harus memberi edukasi tentang seksual pada anak special needs ini sejak dini,” tandasnya. 

Dengan pengetahuan dan pemahamannya mengenai seksual dan seksualitas, lanjut Bonny, maka ketika ABK memasuki usia pubertas dan mengenal lawan jenis, mereka sudah mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Yang tak kalah penting, tutur Bonny, adalah memberikan edukasi seputar seksualitas kepada ABK, yang bisa dimulai dengan mengenalkan bagian-bagian tubuh anak yang sensitif.

“Ada bagian tubuh yang boleh diperlihatkan pada semua orang, tapi juga ada yang tidak boleh diperlihatkan sama sekali. Atau hanya boleh diperlihatkan pada orang tertentu, misal orang tua untuk membantu,” bebernya.

Bonny memberi penekanan bahwa jika ABK mengerti mana bagian tubuh yang harus dijaga, ia akan bereaksi jika ada tindakan yang mengarah ke tindakan pelecehan seksual.

Upaya lain untuk mencegah pelecehan seksual, masih kata Bonny, orang tua bisa memberikan pemahaman pada ABK agar menjalin hubungan baik bersama guru dan teman.

“Kalau si anak menjalin hubungan baik dengan guru atau teman-teman, pengawasan akan lebih mudah dilakukan. Karena, tingkat kepercayaan pada si anak tinggi,” tegasnya.

Peran aktif orang tua ini dianggap penting mengingat marak kasus pelecehan seksual pada ABK justru dari orang terdekat. “Mirisnya, banyak kasus pelecehan justru datang dari orang terdekat, bahkan keluarga sendiri. Karena itu, orang tua harus benar-benar punya peran aktif,” ujarnya.

Karena itu, Bonny menandaskan pentingnya orang tua memantau kegiatan anak selama berada di luar rumah. “Jadi saya juga ikut WhatsApp grup kuliahnya, saya juga memantau gadget-nya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” urainya.

Di sisi lain, Bonny tak segan memberikan banyak aktivitas di dalam rumah seperti menyapu dan mengepel rumah. “Kalau anak melakukan aktivitas di rumah kan kita juga bisa memantau mereka. Pemberian aktivitas di rumah juga bisa menurunkan dorongan seksual, saat anak memasuki usia puber,” katanya. dit

#anakberkebutuhankhusus #forkasi #specialneeds

Posting Terkait