
Prigi Arisandi dan Dandhy Laksono saat promo film 'Pulau Plastik' di Ciputra World Surabaya, Senin (26/4/2021).

iniSURABAYA.com – Tak semua film dokumenter bisa tembus tayang di bioskop Indonesia. Dari yang sedikit itu adalah ‘Pulau Plastik’ yang berhasil tayang di sejumlah bioskop negeri ini.
Film yang proses pembuatannya dimulai tahun 2018 itu akhirnya diputar di bioskop tepat di Hari Bumi pada 22 April 2021. Film garapan Dandhy Laksono tersebut akan tayang sampai 30 April 2020 di CGV, Ciputra World, dan Transmart Rungkut.
Sarat pesan positif terkait lingkungan rupanya menjadi pertimbangan film berdurasi 120 menit itu akhirnya bisa tayang dan bisa disaksikan masyarakat di bioskop.
Karena itu pula, film ‘Pulau Plastik’ yang berbicara tentang isu sampah plastik diharapkan bisa menjadi pembuka bagi para sineas lain untuk mempopulerkan genre tersebut.

Angga Dwimas Sasongko Sutradara dan CEO Group Visinema, mengakui bahwa dokumenter bukanlah genre yang familiar untuk rilis di bioskop Indonesia. Akan tetapi, genre ini adalah cara terbaik untuk menyampaikan isu yang sangat penting dan tidak menutup kemungkinan bisa dikomersialkan.
“Buat saya setiap cerita punya caranya sendiri untuk diceritakan. Kenapa nggak bikin dokumenter jadi komersial dan bikin dokumenter bisa jadi accessible buat semua orang, itu yang kita bikin dengan ‘Pulau Plastik’ ini,” ujar Angga dalam jumpa pers virtual film ‘Pulau Plastik’ beberapa waktu lalu.
Film dokumenter yang tayang di bioskop Indonesia secara komersil masih bisa dihitung lantaran sangat jarang. Kehadiran ‘Pulau Plastik’ pun dinilai oleh sutradara Dandhy Laksono sebagai sejarah yang bisa menginspirasi sineas lain untuk mempopulerkannya.
“Buat saya setiap kehadiran dokumenter di bioskop itu adalah sebuah sejarah dan kita mudah mengingatnya karena jarang, ini adalah hal baru, ini mainstreaming-nya,” kata Dandhy

“Mungkin lewat bioskop, jadi memperluas lagi peluang-peluang dokumenter yang diproduksi oleh kawan-kawan dengan pesan tertentu. Inilah yang jadi mainstream,” imbuhnya.
Sementara itu, Gede Robi ‘Navicula’ sebagai salah satu tokoh dalam film tersebut mengatakan kehadiran film ini bisa menjadi pemantik sineas Indonesia untuk lebih berani menggarap film dengan genre dokumenter.
Sebab selama ini film-film dokumenter tentang isu sosial dan lingkungan yang ada di Indonesia justru digarap oleh orang luar negeri.
“Kenapa dari dulu film dokumenter yang buat orang asing? Berbicara soal hutan, isu polusi, mana orang Indonesia yang ngomong tentang apa yang terjadi di rumah kita? Semoga ini bisa menjembatani isu-isu yang lebih detail. Kami membuka peluang untuk itu,” tandasnya.
Film ‘Pulau Plastik’ menampilkan kisah tentang tiga orang yang menolak diam melawan plastik sekali pakai.
Gede Robi vokalis band rock Navicula asal Bali, Tiza Mafira pengacara muda asal Jakarta, serta Prigi Arisandi ahli biologi dan penjaga sungai asal Jawa Timur menelusuri sejauh mana jejak sampah plastik menyusup ke rantai makanan, dampaknya terhadap kesehatan manusia, dan apa yang bisa dilakukan untuk menghentikannya.
Tolak Plastik Sekali Pakai
Film dengan durasi kurang lebih 120 menit itu diawali dengan seorang aktivis lingkungan bernama Gede Robi memulai perjalanan dari Bali ke Jakarta dengan membawa satu truk sampah dari bibir pantai di Bali menuju Jakarta untuk mengikuti kampanye tolak plastik sekali pakai.
Robi juga singgah di kantor LSM Lingkungan, Ecoton di Gresik. Robi bertemu Prigi Arisandi yang merupakan pendiri Ecoton.

Prigi membuktikan kepada Robi bahwa di dalam tubuh ikan mengandung banyak mikroplastik. Melalui film tersebut, ternyata selain di tubuh ikan, mikroplastik juga terdapat pada fases manusia.
Hal ini dimulai dengan fases Robi terlebih dahulu yang ternyata mengandung lebih dari 100 partikel mikroplastik dalam 100 gr fases.
Film tersebut juga menampilkan tentang cara merubah gaya hidup untuk bisa mengurangi penggunaan plastik. Dandhy menyampaikan bahwa melalui film tersebut, ia berharap gaya hidup masyarakat tentang penggunaan plastik pun berubah. dit/ewi
















