Rilis Buku ke-46, Hamid Nabhan Ungkap Penyebab Ketokohan Warga Keturunan Arab sebagai Pejuang ‘Tenggelam’ di Paparan Buku Sejarah Indonesia

1231 views
Hamid Nabhan dan buku terbarunya, ‘Ziarah Sejarah –Mereka yang Dilupakan- 2’.

iniSURABAYA.com – Hamid Nabhan kembali merilis buku bernuansa sejarah. Di buku ke-46 yang dia beri judul ‘Ziarah Sejarah –Mereka yang Dilupakan- 2’ ini Hamid lagi-lagi mengangkat ketokohanan warga keturunan Arab dalam perjalanan perjuangan Republik Indonesia.

“Ini bukan semata etnis!” begitu tegas Hamid yang juga berdarah Arab ini kepada iniSurabaya.com, Jumat (25/3/2022).

Hamid mengaku prihatin dengan banyaknya narasi bahwa warga keturunan Arab tidak punya peran bagi Negara ini. “Targetnya sederhana saja, saya ingin masyarakat Indonesia tahu sisi lain dari sejarah Tanah Air kita ini,” tandasnya.

Hamid menekanan, dirinya ingin memapar fakta terkait peran sosok-sosok keturunan Arab yang belum banyak atau bahkan tidak diketahui dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

“Jadi buku ini harapannya tentu melengkapi buku-buku sejarah yang jadi koleksi masyarakat atau juga di perpustakaan,” papar penulis yang juga pelukis ini.

Dia lalu menunjuk Hadi bin Hamid bin Ahmad bin Syech Abubakar sebagai contoh. Pria kelahiran Surabaya, 28 September 1923 ini adalah pejuang revolusi bersenjata  untuk kemerdekaan Indonesia.

“Ipar Ahmad Albar ini dikenal memiliki nasionalisme yang tinggi,” cetus Hamid.

Hadi bin Hadi juga simpatisan dan donatur untuk Partai Arab Indonesia yang dipelopori oleh pahlawan AR Baswedan. “Dia juga dikenal sebagai tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) yang punya hubungan erat dengan Bung Karno  serta pejuang kemerdekaan lain, seperti Roeslan Abdul Ghani, Bung Tomo, dan Doel Arnowo,” urainya.

Menurut Hamid, ketokohan dan peran warga keturunan Arab sebagai sosok pejuang tidak banyak muncul di buku-buku sejarah lantaran pihak keluarga enggan mengungkapkannya.

“Pihak keluarga menganggap semua yang dilakukan untuk kemerdekaan republik ini adalah amal, jadi tidak perlu ditonjol-tonjolkan,” imbuhnya.

Bahkan, kata Hamid, sangat banyak tanda merah putih yang dipasang di makam-makam sebagai tanda kepahlawanan seseorang dilepaskan pihak keluarga. Ini pula yang akhirnya menimbulkan anggapan tidak ada peran warga keturunan Arab dalam pergerakan kemerdekaan RI.   

Dalam buku tersebut, Hamid mengawali tulisannya dengan mengangkat jejak keturunan Azmatkhan di Indonesia. Hamid menyatakan, bangsa Arab Hadrami (Hadramaut) yang datang ke Nusantara sebelum abad ke-18 berasimilasi secara total dengan penduduk lokal.

Banyak anak keturunan mereka kemudian menggunakan nama-nama lokal dibanding nama-nama Arab. “Ini menyebabkan kaum Arab Hadrami yang berimigrasi ke Nusantara sebelum abad ke-18 sulit diidentifikasi, kecuali mereka yang memang memiliki hubungan historis dengan kerajaan-kerajan Islam di Nusantara,” tutur Hamid.

Sebagai contoh asimilasi antara kaum Arab Hadrami dengan pribumi-Nusantara adalah pernikahan Syarif Abdullah Umdatuddin Azmatkhan, Raja Champa yang memerintah di zaman 1471-1478 dengan Rara Santang, putri Prabu Siliwangi.

Putra mereka, Syarif Hidayatullah, kemudian menghasilkan keturunan raja-raja Banten di ujung barat Pulau Jawa.

“Umumnya mereka dikenali dari gelar kebangsawanan seperti Tubagus atau Ratu,” pungkasnya. ap

#bukusejarah #hamidnabhan #keturunanarab #sejarahperjuangan

Penulis: 
author

Posting Terkait

banner 700x100)