Prihatin Rendahnya Mutu Literasi di Indonesia, NU Circle Lakukan Langkah Penting Ini

Gus Pu menegaskan, kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan. Sebab hanya 23 persen, siswa usia 15 tahun yang setara kelas akhir SMP atau kelas awal SMU, dari seluruh negara peserta PISA yang tidak masuk level 2 ini.
Melihat situasi ini, jaringan masyarakat profesional santri NU Circle menggerakkan sinergi pentahelix. Program yang dilakukan di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan ini melibatkan lima elemen kunci yaitu masyarakat, dunia usaha dan industri, akademisi, pemerintah, dan media.
“Rendahnya mutu literasi numerasi di Indonesia tidak bisa hanya diatasi oleh pemerintah. Semua pihak harus bersinergi, bersama-sama, bergandengan tangan memperbaiki rendahnya kompetensi literasi anak Indonesia,” ujarnya.
Gus Pu menyatakan, sinergi dibangun untuk ‘mengeroyok’ peningkatan kompetensi guru. Sesuai rekomendasi PISA, peningkatan mutu guru diharapkan mampu meningkatkan kompetensi literasi siswa Indonesia.
Dengan program Gernas Tastaka, NU Circle menggandeng PT Bukit Asam sebagai penyandang dana, Universitas Sriwijaya yang mengambil peran akademisi dan pendamping belajar guru, Pemerintah Daerah Kabupaten Muara Enim yang berperan regulasi dan penyedia guru, serta organisasi profesi guru dan media.















