
Juga ada Gianti Amanda M Psi T, Montessori, Dipl. (Principal Early Childhood Education Tentang Anak), dan Grace Melia (Terapis Bermain Tentang Anak) untuk memperkenalkan kembali pentingnya menumbuhkan rasa gemar membaca pada anak, dan bagaimana hal tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan sosial serta performa anak terutama di sekolah.
Adapun rekapan poin-poin penting dari para ahli dan narasumber selama webinar, diantaranya seperti:
- Penentu utama keberhasilan anak tidak hanya kemampuan intelegensinya saja: Mempersiapkan anak ke sekolah agar berhasil akademiknya di masa depan harus disiapkan sejak anak usia dini, seperti umur 1 atau 2 tahun dengan cara memperkenalkan emosi dasar (marah, senang, sedih, takut, dan masih banyak lagi). Jika anak sudah bisa memahami emosi, maka anak lebih mudah meregulasi emosinya, dan secara tidak langsung berdampak baik pula ketika anak memasuki fase sekolah. Seperti contohnya anak bisa lebih mudah beradaptasi dengan segala situasi baru, bersosialisasi dengan teman, hingga tenang dalam menghadapi hal yang sulit di sekolah.
- Performa anak di sekolah sangat dipengaruhi oleh aspek emosi dan sosial: jika anak kesulitan meregulasi emosinya, dapat berdampak pada aktivitas akademiknya di sekolah seperti kesulitan bergaul dengan teman-teman, kesulitan bergabung aktivitas di kelas, dan masih banyak lagi.
- Cara agar anak bisa mengenal emosi: orang tua harus bisa meregulasi emosinya terlebih dahulu sebelum mengajarkan hal tersebut ke anak, selain itu komunikasi antara orang tua ke anak juga sangat penting salah satunya dengan cara mengkomunikasikan emosi melalui buku anak dan produk edukasi lainnya.
- Buku dengan gambar bisa menjadi alat untuk anak meregulasi emosi: anak jadi bisa dengan mudah melihat berbagai situasi, kondisi dan ekspresi jika ada bantuan visualnya melalui buku.
- Atasi anak tantrum dengan meregulasi emosi orang tua terlebih dahulu melalui teknik ‘bernafas 4,5,6’: orang tua untuk memastikan anak sudah dalam situasi aman (bisa dititipkan ke pasangan atau support system lainnya) sebelum meregulasi emosinya. Lalu orang tua bisa menutup mata, menarik nafas selama empat detik, menahannya selama lima detik, dan membuang melalui mulut selama enam detik. Setelah itu orang tua dapat mengambil keputusan atau aksi berikutnya untuk mengatasi anak tantrum dengan lebih bijak ketika sudah lebih tenang.
















