
Dia menyatakan bahwa pengobatan kanker payudara tidak seperti mitos-mitos menakutkan yang banyak beredar di masyarakat. “Harus tanya langsung ke tenaga kesehatan,” tegasnya.

Ditemui di tempat yang sama, Emmy Ariani, General Manager AHCC mengatakan, masih tingginya kasus penderita kanker payudara di Indonesia ini karena kaum wanita sering terlambat memeriksakan diri.
“Mereka yang datang kebanyakan sudah stadium lanjut, yaitu di stadium 3 atau bahkan stadium 4. Dalam kondisi ini, tentu penyebarannya sudah kemana-mana,” katanya kepada iniSurabaya.com.
Emmy menekankan, kondisi berbeda jika pasien masih dalam tahap stadium 2 yang cenderung lokal, sehingga lebih mudah penanganannya. Karena teknologi pengobatan lebih banyak dan modern,” paparnya.

Diakui Emmy, ada yang bilang malu karena itu kan area sensitif. Bahkan ada yang takut mengetahui hasilnya jika mereka melakukan mamografi atau USG untuk mendeteksi kemungkinan adanya kanker dalam dirinya.
“Pemikiran harus dibalik. Kalau ketahuan dalam kondisi parah tentu lebih menakutkan karena proses penyembuhan bakal lama dan makin sakit,” cetusnya.
















