Pembentukan Karakter Lewat Kegiatan Compassionate to The World, Ini Tugas yang Harus Dilakukan Siswa Happy Family

0
518

Siswa Happy Family School Surabaya belajar berinteraksi dengan masyarakat lewat kegiatan Compassionate to the World.

iniSURABAYA.com – Pendidikan dan pembelajaran di sekolah kini memang tak semata yang berkaitan dengan hal-hal akademik. Pembentukan karakter juga diperlukan untuk membuat siswa matang dan siap menghadapi segala permasalahan di masyarakat.

Bertolak dari tujuan itulah Happy Family School memberi tugas pada siswa-siswa, khususnya yang duduk di bangku kelas 10 dan 11 menjalani program Compassionate to The World.

“Compassionate to The World ini salah satu bentuk kegiatan pembelajaran karakter di Happy Family School untuk membangun generasi Illahi yang takut akan Tuhan dan menjadi berkat bagi bangsa,” ungkap Afneigo Siringo Ringo, penanggung jawab program Compassionate to The World.

Kegiatan Compassionate to The World ini, kata Afneigo, kelanjutan dari Community Involvement Program (CIP) dan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Paskah di Happy Family School.

Menurut Afneigo, sebanyak 32 orang siswa kelas 10 dan 11 itu dibagi menjadi lima kelompok yang terdiri dari 6-7 orang siswa. “Dan setiap kelompok melakukan penggalangan dana, merancang penggunaan dana, menentukan target dan lokasi sasaran, sera melakukan implementasi kegiatan,” bebernya.

Pelaksanaan kegiatan Compassionate to The World mulai 14 Februari sampai 31 Maret 2023. Sasaran kegiatan adalah pemulung, tukang becak, tukang sampah di beberapa area yang dipilih.

Kegiatan Compassionate to The World diawali dengan penggalangan dana dari warga sekolah, baik itu siswa, guru, karyawan secara bertahap selama lima minggu.

“Siswa membuat rancangan alokasi penggunaan dana untuk diwujudkan dalam bentuk barang kebutuhan yang akan disalurkan kepada sesama yang kurang beruntung,” urainya.

Puncaknya, lanjut Afneigo, pada 31 Maret 2023, siswa secara berkelompok turun ke jalan untuk menyalurkan secara langsung kepada target kegiatan di beberapa titik lokasi.

Senada dengan Afneigo, Myte Lesar, Marketing & Admission Happy Family School menekankan bahwa dalam kegiatan ini, siswa belajar untuk peduli terhadap sesama yang kurang beruntung dan membutuhkan.

Selain itu mereka juga dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang kritis dalam melihat kebutuhan orang lain serta kreatif dalam memberikan ide atau gagasan yang bermanfaat untuk sesama. “Ini bentuk ucapan syukur siswa atas anugerah Tuhan dalam hidup mereka,” katanya.

Yang tak kalah penting, ucap Myte, melalui kegiatan ini siswa belajar untuk menjadi problem solver yang mampu menjawab kebutuhan orang lain. “Siswa juga belajar untuk mampu berkomunikasi dan bersosialisasi di lingkungan atau komunitas baru yang berbeda dari keseharian mereka,” tandasnya. ap

Comments are closed.