
Yoes Wibowo untuk pertama kalinya unjuk karya di Yogyakarta.

Yoes Wibowo untuk pertama kalinya unjuk karya di Yogyakarta.
iniSURABAYA.com | YOGYAKARTA – Setiap keberadaan tanda dalam bangunan masa silam itu selalu punya maksud. Demikian juga ‘makara’. Bila kita menemukan makara di sebuah candi, benda itu bagai ucapan selamat datang.
Makara adalah makhluk legendaris dalam mitologi Hindu yang kerap digambarkan dalam dalam seni rupa Hindu-Buddha Asia Selatan dan Tenggara. Dia wahana atau kendaraan Dewa Baruna maupun Dewi Gangga.
‘Makara’ ini pula yang jadi salah satu karya unggulan Yoes Wibowo yang secara khusus diusung di gelaran pameran tunggalnya di Jiwa Gallery Yogyakarta.
Pameran bertajuk ‘Nyala Api’ yang sudah dimulai minggu kedua Juni lalu dan berlangsung hingga 2 Juli mendatang ini menjadi debutan bagi Yoes unjuk karya di Yogyakarta.
Difasilitasi Sitok Srengenge, Direktur Jiwa Gallery, Yoes akhirnya bisa memajang 16 karya terbarunya di galeri yang berada di Banyutemumpang RT 01, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIY.
Soal ‘Makara’, Yoes Wibowo mengaku pernah menyaksikannya di Situs Adan-Adan dan Candi Gempur, Kediri. Di sana ditemukan makara yang cukup besar sekitar dua meter panjangnya.

Yoes bersama Roos Kampoong.
“Bisa dibayangkan berapa besar bangunan yang tersemat benda ini,” cetus pelukis kelahiran Sidoarjo, 1 Oktober 1974 itu.
Yoes lalu menunjuk karya lainnya, ‘Cakrangga Durbudi Kacapa’. Lukisan ini terinspirasi dari relief yang dipahatkan pada Candi Jago di bagian penampil yang menghadap ke selatan.
Menggambarkan satu angsa yang membawa terbang kura-kura dengan cara mengigit sebatang ranting di paruhnya. Sedang kura-kura menggigit ranting di kanan-kirinya.
Relief tersebut menceritakan tentang keinginan dua kura-kura untuk terbang melihat burung pelikan. Salah satu kura-kura itu bernama Durbudi, tetapi kedua kura-kura tersebut tidak mempunyai sayap untuk terbang.
“Yang menarik, ada pelajaran moral dari relief ini untuk anak-anak,” ungkap Yoes.
Awalnya kekaguman itu dituangkan Yoes untuk memberikan sentuhan orisinal tentang khasanah cerita atau kisah dari Indonesia. Agar orang di luar Indonesia menemukan sesuatu yang arif untuk diambil maknanya dari karya perupa Indonesia.
Semula Yoes melukisnya sebagai sebuah materi gambar yang menarik.
Namun, belakangan Yoes mendapati bahwa relief adalah sebuah pesan masa lampau yang harus disampaikan berulang-ulang dari generasi ke generasi selanjutnya.
Pengalaman Visual
Keenam belas lukisan Yoes itu istimewa. Yoes memanfaatkan pengalaman visualnya yang mengendap bertahun-tahun sejak ia muda.
Bahkan jauh sebelum ia menjadi pelukis. Yakni ketika ia mengamati relief-relief candi dan bangunan masa lampau yang ditemui di berbagai daerah. Baik itu ketika disampaikan oleh orang tuanya atau kemudian dia dapati sendiri selama bepergian sebagai perupa yang hendak mencari objek dan ide menggambar.
Seni pahat pada dinding candi yang terbuat dari batu yang melukisan cerita atau kisah yang diambil dari kitab-kitab suci maupun sastra itu sangat memukaunya.
Dalam batasan tentang relief yakni seni pahat yang biasanya menjadi hiasan di dinding-dinding bangunan bersejarah seperti candi, kuil, dan monumen, Yoes menyadari ternyata betapa semua yang tertera di sana selalu mempunyai maksud. Bahkan pesan.
“Tak ada sesuatu yang sekadar dipahat,” tandasnya.
Andi Putranto SS MSc, sebagai pengulas pameran juga menyatakan, bahwa relief sendiri merujuk kepada pahatan pada dinding, pagar, pintu gerbang dan hampir di seluruh bagian candi.
Dosen pengajar di Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta itu menambahkan, relief pada candi merupakan ekspresi seni dan religi yang mengandung makna simbolik. Karya-karya lukisan yang dibuat memang mengangkat tema relief yang banyak dijumpai di candi-candi di Jawa.
”Ada relief kalamakara, padma, kurma, garudeya, dan purnakalasa memiliki makna simbolik yang penting bagi kehidupan manusia yang dicoba dipindahkan ke dalam kanvas lukisan karya beliau dengan harapan pesan tersebut dapat ditransfer kepada para pemerhati seni lukis sesuai pemaknaan relief yang menjadi objek lukisan,” ujar kandidat doktor (S3) Ilmu Geografi Fakultas Geografi UGM (2019) itu. ana

















