
Reno Fadhil Alkamal, FO Leader Pop Stasiun Kota dan Komang Bayu Tri Junias Sales Executive Pop Stasiun Kota bekerja sama menghias dinding di area drop off hotel di kawasan Surabaya Utara tersebut.
Yang juga sempat mengganggu konsentrasi mereka adalah ketika sampai sesi membuat maskot Sulo Bolo. Agar bisa fokus, Reno dan Komang sepakat menggambar Sulo dan Bolo terpisah. “Saya bagian gambar Bolo, sedang Reno bagian Sulo. Bedanya, gambar maskot Sulo Bolo ini tanpa sketsa lebih dulu seperti waktu menggambar stadion. Langsung pakai kuas,” kata pria yang mencantumkan label ‘Mang’ di karyanya ini.
Mulai mereka kerjakan pukuk 18.00, mascot Sulo Bolo itu baru tuntas lewat tengah malam, yaitu hampir pukul 02.00. “Yang lama mikir ide font-nya agar sebagus mungkin. Karena sudah banyak warna yang muncul malah bikin kami bingung, mau pakai warna apa lagi untuk font agar semuanya jadi satu kesatuan,” imbuhnya.
Untuk menentukan font Sulo Bolo ini mereka bahkan sampai sempat adu argumentasi dan menghabiskan satu kaleng cat semprot hanya untuk menghapus font sebelumnya. “Menentukan font ini sampai berubah 2-3 kali agar komposisinya pas. Akhirnya kami sepakat pakai font yang ternyata justru sangat simple. Sebelumnya malah lebih rumit,” ucap Komang.
Total mereka habiskan lima kaleng cat tembok dan 18 kaleng cat semprot untuk menyelesaikan karya seni menarik di dinding Pop Stasiun Kota tersebut. “Ini wujud partisipasi kami untuk turut menyemarakkan gelaran Piala Dunia U-17,” ujar Odex Damanik, HM Pop Stasiun Kota Surabaya.
Apalagi, kata wanita asal Batak ini, prosesi pembukaan FIFA U-17 World Cup Indonesia 2023 dilakukan di Kota Surabaya. “Kita nggak tahu kapan lagi Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia. Jadi kita harus bangga dengan kesempatan ini. Dan (karya seni) inilah yang bisa kami ekspresikan sebagai bentuk rasa bangga itu,” celetuk Odex yang menjagokan tim Eropa, Jerman jadi jawara Piala Dunia U-17 2023. ap
















