
Drh Liang Kaspe (dua dari kanan) didampingi Dr drh Rimayanti MKes (Wakil Dekan 1 FKH Unair), Iryani Syahrir, dan Wina Bojonegoro, owner Padmedia Publisher.
Fokus penulisan buku ‘Kenangan yang Terbakar’ ini adalah tentang sosok drh Liang yang gigih akibat tempaan keluarganya. “Beliau adalah sosok yang di luar dikenal sangat keras, tetapi punya jiwa kelembutan yang luar biasa terhadap satwa,” ungkapnya.
Melalui buku tersebut, Iryani menyatakan ingin memperlihatkan sosok Liang Kaspe secara utuh. “Bahwa untuk menjadi dokter hewan itu tak cuma soal memberi makan. Tetapi bagaimana membangun kedekatan dengan satwanya. Ini sesuatu yang luar biasa,” tuturnya.
Iryani menegaskan, jika ingin menjadi dokter hewan jangan hanya untuk mengejar materi, tetapi harus pakai hati. “Banyak dokter hewan tak ‘berkomunikasi’ dengan satwa. Saat memeriksa ‘pasien’ pun tidak ada sentuhan langsung,” cetusnya.
Iryani berharap Gen Z yang akan menggantikan drh Liang Kaspe bisa belajar sesuatu melalui buku ‘Kenangan yang Terbakar’, bahwa menjadi dokter hewan itu bagaimana berkomunikasi dengan hewannya.
Di sisi lain, Iryani juga menekankan bahwa di balik KBS yang besar ada keeper yang berperan penting. “Drh Liang belajar konservasi bukan dari kampus, tetapi justru dari keeper senior,” ujarnya. ap
















