
Aksi demo pengemudi ojol di Jakarta. (foto: dok @inilah.com)
“Selain itu juga subsidi program edukasi dan pelatihan untuk driver. Yang juga penting adalah pendekatan perlindungan usaha yang selama ini juga diberikan kepada taksi konvensional,” urai Fahmi.
Oraski juga menekankan bahwa jika pemerintah atau DPR tetap memaksakan intervensi pada regulasi tarif dan potongan yang bukan ranah kewenangannya, maka risiko keruntuhan seluruh ekosistem transportasi online sangat besar.
“Kalau aplikator sampai tutup karena regulasi yang tidak tepat, maka jutaan driver bisa kehilangan pekerjaan. DPR dan pemerintah harus siap menanggung akibatnya jika ini sampai terjadi,” imbuhnya.
Fokus Perjuangkan Pendapatan Driver
Selama ini Oraski telah memperjuangkan kesejahteraan driver online melalui pendekatan langsung kepada aplikator, mendorong program garansi pendapatan harian yang kini dinikmati ribuan pengemudi—baik anggota Oraski maupun mitra individu lainnya.
Lebih lanjut, Oraski menilai bahwa revisi Undang-Undang Lalu Lintas sebaiknya diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan dan keselamatan pengguna, bukan semata-mata perubahan status atau pembatasan tarif yang berpotensi melemahkan daya saing.
















