
sekitar 50 desainer dari berbagai daerah gelar karya spektakuler di Surabaa Fashion Parade 2025.
Karena itu, lanjut Dian, desainer yang bertahan –di gelaran SFP kali ini—adalah mereka yang mau riset. “Mereka mau menggali ide-ide baru. Mau menggabungkan teknologi dengan desain maupun teknik potongan,” paparnya.
Dian menekankan, tetap hadirnya SFP adalah berkat dukungan para desainer yang selalu berinovasi dalam karya mereka untuk kemudian disajikan ke masyarakat.
“Mereka bahkan mendesak agar SFP tetap ada. ‘Ayo tetap bikin. Kalau tidak, siapa yang memberi wadah kami’,” kata Dian mengutip permintaan para desainer.
Karena itu pula, ujar Dian, SFP jadi selektif dan hanya mengajak desainer yang mau berinovasi agar ada karya spektakuler di dunia fashion negeri ini.
Dian lalu merujuk tema ‘Rebellion’ yang mempresentasikan semangat baru para insan fashion untuk melawan arus, menolak stagnasi, dan mendobrak standar lama. Melalui eksplorasi desain yang berani eksperimental, dan penuh karakter, SFP ke-18 menjadi ruang bagi para desainer untuk menyuarakan ide-ide tak biasa yang memadukan keanggunan, ketegasan, dan kebebasan artistik.

















