
'Besut Jajah Deso Milangkori' di Dekesda, Jumat (10/4/2026). (foto-foto: dok/IST)
Kolaborasi Samin dan BrangWetan
Acara malam itu juga menjadi sarana kolaborasi antara Sanggar Anak Merdeka Indonesia (Samin) yang dipimpin Meimura, Komunitas Seni Budaya BrangWetan (Henri Nurcahyo), dan Dewan Kesenian Sidoarjo. Selain BrangWetan dan Samin, acara akan melibatkan komunitas kesenian di masing-masing kota.
Dalam kesempatan diskusi usai pentas, Ribut Wiyoto, Ketua Dekesda yang menjadi salah satu narasumber, memberikan kesaksian bahwa sebetulnya ludruk masih disukai oleh masyarakat. Namun, banyak kelompok ludruk yang berguguran atau hanya tinggal ‘ludruk papan nama’.
Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah, mereka masih berpegang pada aturan konvensional, bahwa ludruk harus dimainkan dalam kelompok besar, iringan gamelan lengkap, bermain di gedung dan panggung.
Karena itu, tambah Ribut, kehadiran pentas ludruk garingan oleh Meimura ini merupakan tawaran kreatif agar ludruk tidak menyerah oleh keadaan.
Kebetulan, pementasan di Dekesda ini memang dilangsungkan di panggung, lengkap dengan tata lampu dan tata suara, lantaran memang sudah tersedia. Penonton juga duduk manis di kursi, bukan pentas lesehan sebagaimana di teater arena, atau seperti pentas perdana di Surabaya minggu lalu.

















